Mengukur Adversity Quotient (AQ) bagian 2

Mengukur Adversity Quotient (AQ) bagian 2

Pada artikel terdahulu Mengukur Adversity Quotient (AQ) bagian 1 dijelaskan unsur apa-apa saja yang membentuk nilai AQ seseorang, yaitu CORE: Control-Origin & Ownership-Response-Endurance. Pertanyaan yang timbul adalah, setelah mengetahui nilai AQ, bagaimana meningkatkannya? Dalam buku yang sama Stoltz menyebut teknik untuk meningkatkan AQ ini dengan LEAD. Apa itu LEAD?

Secara sederhana LEAD adalah tahapan-tahapan yang digunakan untuk memberikan respons saat sebuah kejadian yang berkaitan dengan Adversity Quotient atau sebuah kesulitan terjadi. LEAD sendiri merupakan singkatan dari Listen-Establish Accountability-Analyze-Do dengan penjelasan sebagai berikut:

Listen
Pada tahap pertama yang penting ini, kita perlu mendengarkan respons diri kita terhadap kesulitan yang terjadi. Pertanyaan pertanyaan yang bisa diajukan untuk memperkuat proses antara lain:
– Kasusnya apakah mencerminkan AQ yang tinggi atau rendah?
– Dimensi CORE mana yang paling berperan dalam kejadian ini?
Contoh:
– Tidak ada yang bisa saya lakukan sama sekali! → Control rendah
– Saya memang bodoh sekali → Origin rendah
– Seharusnya dia yang harus disalahkan, saya tidak tahu menahu → Ownership rendah
– Hancurlah semua hidup saya! → Reach Rendah
– Segala sesuatunya tidak akan pernah membaik → Endurance rendah

Establish Accountability. Di tahap ini kita menganalisa hal-hal apa yang bisa kita lakukan (termasuk terhadap kemungkinan yang paling kecil) untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan:
– Hal-hal apa saja yang akan Anda lakukan (walaupun kecil) untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik?
– Kira-kira dalam waktu 1-2 hari apa yang akan terjadi dari tiap jawaban nomor 1?
– mana yang akan Anda pilih untuk Anda lakukan?

Analyze Evidence. tahap ketiga dalam Mengukur Adversity Quotient adalah Analyze Evidence. Hal-hal yang bisa dilakukan di tahap ini:
– Pisahkan antara fakta dan asumsi yang ada. Mencampur adukkan antara fakta dan asumsi bisa membuat solusi yang kita ambil menjadi bias. Misalnya: Hari ini Anda melakukan presentasi penting. Bahan sudah Anda berikan kepada tim Anda untuk di kerjakan. Pada saat presentasi, filenya ternyata kena virus. Anda merasa presentasi Anda menjadi jelek di mata atasan karena atasan Anda begitu saja meninggalkan ruangan saat Anda selesai presentasi.
Fakta:
– file Anda terkena virus (fakta)
– presentasi Anda jelek (asumsi), akan menjadi fakta jika ada skor yang menunjukkan skor Anda 1 dari skala 5.
– atasan tidak puas? → sebaiknya diklarifikasi sebelum membuat penilaian terhadap diri sendiri.
Penting mempertimbangkan pertanyaan berikut dalam tahap ini:
– Bukti-bukti apa saja yang diluar CORE Anda?

Do Something. Tahap ini merupakan kumpulan tindakan (action list) jawaban dari fakta-fakta CORE apa saja yang telah kita data di tahap sebelumnya yang menjadi masalah kita. Misalnya di kasus presentasi diatas salah satu faktanya adalah file Anda terkena virus. Maka beberapa tindakan yang bisa dilakukan antara lain:
– alternatif a: Memasang anti virus
– alternatif b: Membuat file cadangan
– alternatif c: bahan presentasi di taruh di server/cloud
Langkah berikutnya adalah membuat Action Funnel. Action funnel ini bertujuan untuk memprioritaskan dan menuntaskan Action yang akan kita lakukan. Ada 4 hal pertanyaan mendasar:
1. Action mana yang akan kita pilih / lakukan terlebih dahulu?
2. Bagaimana melakukannya?
3. kapan akan dilakukan?
4. Siapa yang akan melakukan?
Misalnya yang dipilih adalah alternatif a, maka:
1. Memasang anti virus
2. Menginstall anti virus di setiap laptop dan komputer
3. Minggu ini hari rabu-jumat
4. Tim IT

sumber: Adversity Quotient, Paul G Stoltz
gambar: ihdwallpapers.com
Mengukur Adversity Quotient

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *