Mengukur Adversity Quotient (AQ) bagian 1

Mengukur Adversity Quotient (AQ) bagian 1

Di tulisan terdahulu,  Adversity Quotient (AQ) untuk Kesuksesan disebutkan bahwa AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja kita dapat menuntun kita kepada kesuksesan. Orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mencapai kesuksesan dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah. Bisa dipekirakan dengan menjumlahkan masing-masing komponennya. Dalam buku yang sama, Profesor Stoltz merumuskan bahwa Adversity Quotient merupakan penjumlahan dari CO2RE (C+Ow+Or+R+E). Masing-masing penjelasannya adalah sebagai berikut:

C (Control)
Control / Kendali mempertanyakan: Berapa banyak kendali yang Anda rasakan terhadap sebuah peristiwa yang menimbulkan kesulitan? Kata ‘rasakan’ digunakan karena kenadali yang sebenarnya dalam suatu situasi hampir tidak mungkin di ukur. Control /Kendali merupakan dimensi yang penting dalam teori optimisme. Kendali berhubungan langsung dengan pemberdayaan dan pengaruh dan mempengaruhi semua dimensi CO2RE lainnya.Kendali diawali dengan pemahaman bahwa sesuatu – apa pun itu – dapat dilakukan, seperti:
– Setiap eksekutif yang mengembalikan perusahaan yang sudah goyah.
– Setiap pelajar yang mengambil mata pelajaran yang sangat sulit.
– Setiap pemimpin yang menentang kebijakan yang sudah umum berlaku.
– Setiap tenaga penjual yang menemukan jawaban “ya” di lautan jawaban “tidak”.
– Setiap orang yang berusaha menciptakan perubahan atau perbaikan.

Orang dengan nilai C yang rendah cenderung berpikir:
– Ini diluar jangkauan saya!
– Tidak ada yang bisa saya lakukan sama sekali
– Mustahil untuk merubahnya

Orang dengan nilai C yang tinggi:
– Siapa yang berani, akan menang
– Saya akan mencari cara lain
– Pasti ada yang bisa saya lakukan. Saya tidak percaya saya tidak berdaya dalam situasi seperti ini.

O2 (Ow + Or) Origin & Ownership
O2 merupakan kependekan dari “Origin” (asal usul) dan “Ownership” (Pengakuan). O2 mempertanyakan dua hal: Siapa atau apa yang menjadi asal usul kesulitan? Dan sampai sejauh mana saya mengakui akibat-akibat kesulitan ini?

Origin berkaitan dengan rasa bersalah. Rasa bersalah memiliki dua fungsi penting.
Pertama, rasa bersalah itu membantu kita belajar. Kita berusaha menjadi lebih baik setelah menyadari bahwa kesalahan itu berasal dari diri kita.
Kedua, rasa bersalah itu menjurus pada rasa penyesalan. Penyesalan dapat membantu kita menginstrospeksi diri sendiri karena yang kita lakukan melukai orang lain. Penyesalan menrupakan motivator yang sangat kuat bila digunakan dengan semestinya.

Orang dengan nilai Origin yang rendah cenderung berpikir:
– Ini semua kesalahan saya
– Saya memang bodoh sekali
– Saya memang orang yang gagal

Orang dengan nilai Origin yang tinggi:
– Sekarang ini, setiap orang sedang mengalami masa-masa sulit
– Ada sejumlah faktor yang berperan dalam kegagalan ini
– Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, saya tahu ada cara untuk menyelesaikan pekerjaan saya dengan lebih baik, dan saya akan menerapkannya bila lain waktu saya berada dalam situasi ini lagi.

Ownership berkaitan dengan sikap diri sendiri saat menghadapi masalah. Orang dengan ownership yang tinggi akan bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya. Sementara, orang yang mempunyai nilai ownership yang rendah akan menyalahkan orang atau faktor lain.

Orang dengan nilai Ownership yang tinggi:
– Ini tanggung jawab saya.
– Saya akan mengganti semua biaya kerusakan akibat kelalaian saya
– Saya siap bertanggung jawab.

Orang dengan nilai Ownership yang rendah:
– Ini semua gara-gara dia
– Seharusnya dia yang harus disalahkan, saya tidak tahu menahu
– BUkan saya yang seharusnya dipanggil untuk masalah ini

Semakin tinggi skor Ownership Anda, semakin besar Anda mengakui akibat-akibat dari suatu perbuatan, apa pun penyebabnya. Semakin rendah skor Ownership maka semakin besar kemungkinannya Anda tidak mengakui akibat-akibatnya apa pun penyebabnya.

Reach berkaitan dengan pertanyaan sejauh manakah kesulitan akan menjangkau bagian-bagian lain dalam kehidupan saya? Orang-orang yang mempunyai AQ yang rendah akan membuat masalah merembet ke bagian-bagian lain dalam hidupnya. Sementara orang dengan AQ tinggi akan dapat melokalisir respon akan masalah yang ada.

Orang dengan nilai Reach yang tinggi:
– Ini tidak akan mengganggu bagian lain. Serahkan pada saya. Akan saya bereskan
– Tidak apa-apa, itu kan cuma kejadian yang tidak disengaja
– Setahu saya sih tidak akan sampai meluas seperti itu

Orang dengan nilai Reach yang rendah:
– Hancurlah semua hidup saya!
– Rencana yang kubangun bertahun-tahun semuanya kandas ditengah jalan hanya karena hal ini
– Kejadian ini merusak reputasi baikku yang kubangun selama bertahun-tahun. Habislah. Tamat.

Endurance mempertanyakan dua hal penting yaitu: Berapa lama kesulitan akan berlangsung dan berapa lama penyebab kesulitan itu akan berlangsung?
Semakin rendah nilai E seseorang maka akan semakin besar kemungkinannya seseorang akan menganggap kesulitan dan penyebabnya berlangsung lama.

Orang dengan nilai Endurance yang rendah:
– Segala sesuatunya tidak akan pernah membaik
– Biasanya selalu berakhir buruk begini
– Kalau begini terus, seumur hidup kita akan menderita!

Orang dengan nilai Endurance yang tinggi:
– Jangan khawatir, paling besok sudah normal semuanya

sumber: Adversity Quotient, Paul G Stoltz
gambar: esforos.com
bersambung ke Mengukur Adversity Quotient (AQ) bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *