Imunisasi

Imunisasi

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.

Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.

Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan.

Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk antibodi. Antibodi itu umumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang. (organisasi.org)

Barusan bangun tidur ibu saya cerita. Tadi malam salah seorang bibi saya cerita panjang lebar di telepon dari jam 11 sampai jam setengah 2 soal anaknya yang mengalami musibah bla bla bla. “Terus, mama ngapain?”
“Ya, mama dengerin aja.”
“Mama kasi saran?”
“Nggak. Mama jadi pendengar yang baik…“

Semakin lama hidup di dunia saya saya semakin memahami bahwa ada masa-masa di mana kita benar-benar terkejut-kejut, shock, tidak percaya akan kejadian yang menjengkelkan, bikin emosi, membuat marah, dan rasa api di dalam sekam yang sangat besar seperti lirik lagu Cemburu-nya Dewa.

Mau tidak terima?
Mau marah?
Lha gimana… orang tiap hari kita sudah belajar,
diminta belajar,
dipaksa belajar,
tapi kadang gaaaak ngerti-ngerti juga.
Matahari bergantian dengan bulan.
Malam bergantian dengan siang,
Susah berganti senang.
Senang berganti malang.

Kapan tu pas saya jadi fasilitator di kelas Leadership ada yang nanya, “Bos saya kok begini ya pak. Saya bangun jam 2 pagi karena ada emergency di pabrik.

Saya ambil tindakan karena saya gak mau membangunkan bos saya. Ternyata paginya itu malah bermasalah. Bos saya marah besar sama saya di depan orang banyak. Padahal kan saya niatnya baik …….“


Di mata saya, kejadian yang menimpa kita yang kita tidak senangi itu sama dengan imunisasi.
Terkadang efeknya beberapa waktu setelah imunisasi masih berasa. Demam, emosi tidak stabil, limbung adalah beberapa efek dari imunisasi. Kadang imunisasi berlangsung sekejap, sebentar. Kadang lamaa.. hingga bertahun-tahun efeknya.

Tapi kembali lagi, tujuan imunisasi adalah memberikan kekebalan terhadap ‘penyakit’ yang akan datang menyerang di kemudian hari.

Pertanyaan besar yang timbul pada saat diimunisasi biasanya,

Why me? Why me, God?!”

“Kenapa, kenapa harus aku Tuhan?!” tiba-tiba nama itu muncul dan jadi kambing hitam. Tidak semua diucapkan eksplisit sih.

Padahal ni…

Waktu kita sedang makan enak, jarang tuh kita ngomong, “Kenapa, kenapa harus aku Tuhan, kenapa bukan dia?!”
Ketika karir kita lagi bagus, nyaris gak pernah tu kita protes, “Kenapa, kenapa harus aku Tuhan, kenapa bukan musuhku?!”

Waktu kita bisa beli baju bagus, sepatu bagus, nge-mall, jarang kita berpikir, “Kenapa, kenapa aku lagi Tuhan, kenapa..?!!!”

Ketika anak kita lahir sehat apa dulu kita pernah bertanya, “Kenapa, kenapa harus aku, Tuhan?!”

Ketika kita punya pasangan yang setia dan menyenangkan, apa pernah terbersit di pikiran kita,

“Kenapa, kenapa harus aku, Tuhan?!”

“Kenapa?”

“Kenapa aku lagi?”

“Apa hebatnya aku…?”

“Pernahkah kita bertanya?”

Pernahkah sekali saja, saat kita sedang mendapatkan hal yang menyenangkan bertanya.. “Kenapa harus aku yang menerima hal ini? Kenapa bukan orang lain Tuhan?”

Kira-kira kita menerima anugrah itu apakah karena:

a.Kita hebat

b.Kita baik

c.Kita luar biasa, berkontribusi buat masyarakat?

Lalu, orang lain tidak menerima seperti yang kita terima kira-kira apakah karena:

a.Mereka tidak layak, saya lebih layak

b.Mereka kurang bersyukur, saya lebih banyak bersyukur

c.Mereka tidak baik, saya lebih baik.

Pada saat proses imunisasi, ada yang cepat kembali sadar.
Ada yang marah panjang tidak bekesudahan.  
Ada yang pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Ada juga yang bahkan tidak mengambil pelajaran apa-apa.
Berarti imunisasinya gagal!
Apa yang akan dilakukan jika imunisasi gagal? Seperti kasus vaksin palsu?  Logika saya, Imunisasinya akan diulang! Mau?

Life Coach & Mentor saya pernah bilang, dan sering disampaikan berulang-ulang karena orang kayak saya ini suka bandel.  “Sesungguhnya, saat proses seperti itu, Tuhan sedang dekat sekali dengan kita. Ia seperti berbisik dan berdialog dengan nurani kita.”
“Hey buddy, I am here..” (actually, He’s always there 24/7)
“Hey God, long time no see..
Sorry not to contact you for so long..”
“Are you okay
?”
“I hope so. It’s,..
So hard for me to handle this.. Why me? Why me, God?”
“I know..
I really aware about that.. That’s why….

I choose you. Because only you, the one and only – could bear it better than others. Be strong ok..? I’m here -always beside you- if you need me…”

Sumber: Bertempurlah Tapi Dengan Gagah, Iwan Pramana, Insan Mandiri Cendekia, 2018. Gambar: Photo by Prasesh Shiwakoti (Lomash) on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *