Habibie

Habibie

Habibie merupakan tokoh besar di Indonesia. Nama lengkap beliau Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih dikenal dengan B.J. Habibie, lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Beliau merupakan putra dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Nama panggilan kecil hingga sekarang beliau adalah rudy. Kelahiran beliau di bantu oleh seorang bidan yang oleh orang bugis disebut “Sanro”, nama bidan itu adalah Indo Melo.

            Orangtua Habibie bukan kelahiran Sulawesi Selatan. Ayah beliau yaitu Alwi Abdul Jalil Habibie lahir di Gorontalo, 17 Agustus 1908. Ayah beliau merantau ke Jawa untuk bersekolah di sekolah Pertanian di Bogor. Sedangkan ibu beliau yaitu Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta, 10 November 1911. Ibu beliau bersekolah di HBS (Hugere Burger School). Ibu dari Tuti Marini P merupakan anak dari seorang spesialis mata di Yogyakarta, sedangkan ayah dari Tuti Marini P bernama Puspowardojo bertugas sebagai penilik sekolah.

            B. J. Habibie adalah anak ke empat dari delapan bersaudara. Kakak pertama beliau bernama Titi Sri Sulaksmi, kakak kedua beliau bernama Satoso Muhammad Duhri, kakak ketiga beliau bernama Alwini Khalsum, setelah itu beliau sebagai anak ke empat, adik pertama beliau bernama Jusuf Effendy, adik kedua beliau bernama Sri Rejeki, adik ketiga beliau bernama Sri Rahayu, dan yang terakhir merupakan adik bungsu beliau bernama Suyatim Abdurrahman.

            Sejak kecil Rudy panggilan akrabnya B. J. Habibie merupakan anak yang cerdas, berbeda dengan yang lainnya, hobi beliau adalah membaca. Jika tiba waktu bermain beliau biasanya menyelesaikan pekerjaan rumahnya terlebih dahulu baru setelah itu bermain. Mainan yang sering beliau mainkan adalah Blokken (micano) dengan bentuk kapal terbang dan sebagainya. B. J. Habibie merupakan anak yang tertutup, namun beliau sangat tegas dalam prinsip hidupnya. Jika sedang berselisih dengan sang adik, beliau tidak gampang menerimanya, beliau akan protes dan berteriak tidak bersalah dan tidak mau disalahkan karena beliau merasa benar. Namun jika beliau bersalah, akan melakukan diam dan tidak protes sedikit pun. Beliau tidak pernah terlibat dalam perkelahian dengan teman sebayanya, tetapi bukan berarti beliau tidak bergaul dengan teman-temannya.

            Sebagaimana seorang anak, beliau ikut mengaji bersama kakak dan teman-temannya pada seorang guru yang bernama Hasan Alamudi. Kewajiban di tempat mengaji beliau yaitu mengambil air di sumur untuk mengisi gentong air minum atau bak tempat cuci kaki, karena rumah gurunya berupa rumah panggung. Beliau sering menyaksikan teman-temannya mengaji yang di hukum oleh pak guru karena berbuat yang tidak sesuai. Hukuman yang sering diberikan pak guru yaitu di e-pe atau dengan memasukkan menyilang jari-jari tangan pada sejenis alat dari bamboo kemudian ditekan oleh pak guru. Selama mengaji beliau termasuk anak yang rajin dan cepat menghafal bacaannya, sebab itu beliau berhasil khatam Al-Qur’an beberapa kali.  

            Pada tanggal 3 September 1950, hal yang tidak terduga terjadi. Alwi Abdul Jalil Habibie mendapat serangan jantung secara mendadak saat bersujud shalat Isya. Seluruh keluarga kebingungan. Titi anak pertama segera berlari untuk mencari pertolongan, setiba di asrama Brigade Mataram, ia meminta pertolongan dokter brigade. Yang datang adalah Overste Soeharto yaitu komandan Brigade Mataram bersama Dokter Tek Irsan. Namun sang ayah tak dapat diselamatkan, beliau meninggal.

            Tidak berapa lama setelah kepergian ayah beliau, B. J. Habibie pindah ke Bandung. Beliau berangkat menggunakan kapal miliki KPM ke Pulau Jawa yang merupakan pengalaman pertama kali beliau meninggalkan keluarganya. Sesampainya di Pulau Jawa beliau menumpang di rumah kerabat di daerah paseban (Jakarta) sambil bersekolah. Karena beliau tidak betah akhirnya beliau meminta pindah ke Bandung. Di Bandung beliau tinggal di rumah Pak Soejoed, seorang Inspektur Pertanian di Jawa Barat. Pak Soejoed merupakan teman baik almarhum Alwi Abdul Jalil Habibie. Tak lama setelah itu, beliau memustuskan untuk pindah kost di keluarga Sam. Dari sekolah HBS beliau pindah ke SMP yang saat itu bernama Gouverments Middlebare School (sekarang SMP 5).

            Saat di berada di bangku sekolah SMA, B. J. Habibie bersekolah di SMAK di Dago yang dulu di kenal sebagai Lycium. Di SMA lah beliau mulai tampak menonjol prestasinya di bidang pelajaran terutama dalam pelajaran ekstakta, seperti matematika, mekanika, dan lain-lain. Setelah itu, B. J. Habibie melanjutkan ke perguruan tinggi di ITB, namun hanya praktis 6 bulan menjadi mahasiswa di ITB. Karena pada saat itu beliau memutuskan untuk berkuliah di luar negeri. Kebetulan pada suatu hari beliau bertemu teman yaitu Kenkei (Lateru) yang di ITB. Setelah itu, B.J. Habibie memutuskan melanjutkan pendidikan di Technische Hochschule Aacen Juruan Kontruksi Pesawat Terbang di Jerman barat.

            Setelah sesampainya di Jerman B.J. Habibie harus belajar bahasa Jerman dan diuji dulu menggunakan bahasa Jerman, ilmu pasti, ilmu alam, mekanika, juga Bahasa Inggris. Kalau berhasil lulus dalam ujian tersebut dapat melanjutkan ke semester pertama. Jika teman-temannya saat libur musim panas kebanyakan bekerja untuk mencari uang juga pengalaman dan tidak mengikuti ujian, beliau melakukan hal sebaliknya. Di musim panas beliau tetap mengikuti ujian dan bekerja untuk membeli buku. Namun saat musim panas berakhir beliau melepaskan pekerjaan sambilannya dan fokus pada sekolahnya.

            B.J. Habibie merupakan sosok yang mudah bergaul dengan siapa pun. Mahasiswa hingga masyarakat yang berada di lingkungannya sering beliau ajak berdialog dan mengobrol. Walaupun B.J. Habibie cukup serius pada pelajaranya, tetapi beliau tidak lupa melibatkan diri dalam kegiatan sosial dalam dunia kemahasiswaan.

            B.J. Habibie menikahi Hasri Ainun Besari. Saling kenal sejak kecil, Ainun merupakan teman main kelereng kakaknya, rumah Ainun juga berdekatan saat di Bandung. Saat di bangku SLTP, sekolah Ainun dan B.J. Habibie bersebelahan sedangkan saat di bangku SLTA menjadi satu sekolah, namun B.J. Habibie satu tingkat di atas Ainun. Pada tanggal 12 Mei 1962 B.J. Habibie dan Hasri Ainun Besari menikah. Setelah itu, B.J. Habibie dan Hasri Ainun Besari berangkat ke Jerman. Karena masa cuti B.J. Habibie telah habis, di samping itu B.J. Habibie harus melanjutkan pelajarannya guna meraih gelar Doktor. Ainun harus ikut ke Jerman, karena itu beliau terlebih dahulu mengurus dan melengkapi surat-surat dari R.S. Cipto Mangunkusumo maupun dari Pemerintah Indonesia.

            Setelah kepindahan Hasri Ainun Besari di Jerman, B.J. Habibi pindah ke sebuah pavilliun kecil dengan tiga kamar yang kecil, namun uang sewanya sangat besar. Kehidupan yang di rasakan di Jerman sangatlah kurang, bagaimana tidak gaji yang diterima tiap bulan harus di hemat agar dapat memenuhi kehidupan sehari-hari untuk berdua. Di samping itu, ketika ainun sudah hamil sekitar 4 bulan, rumah yang ditempati tidak cukup besar saat bayinya lahir nanti. Setelah itu, mereka menemukan rumah susun yang besarnya agak lumayan berada di Luar Aacen yang terletak di Oberforstbach.

            Setiap hari B.J. Habibie pergi pagi-pagi ke pabrik, kemudian sampai malam di universitas hingga pukul 22.00 atau pukul 23.00 malam baru beliau sampai rumah yang digunakan untuk menulis disertasi. Kemana-kemana B.J. Habibie naik bus setiap harinya, bahkan karena kekurangan uang untuk membeli kartu langganan bulanan, beliau sampai jalan kaki mengambil jalan pintas sejauh 15 km hingga sepatu beliau berlubang-lubang menjelang musim dingin. Hal yang dilakukan beliau adalah menambalnya karena pengeluaran keluarga semakin meningkat dan perlu ada tabungan untuk hari depan.

            Saat yang di tunggu-tunggu akhirnya datang, anak pertamanya lahir kedunia. Di berilah nama Ilham Akbar, yang berarti ilham besar karena di saat itulah ide tema untuk tesisnya muncul ketika anak pertama lahir. Meskipun hidup mereka kurang namun mereka tetap bersyukur dengan apa yang diperolehnya saat itu. Ada kalanya Ainun merasa bahagia karena di saat B.J. Habibie sibuk dengan tumpukkan kertasnya namun beliau mau membantu Ainun mencuci piring, mencuci popok bayi.

Tahun 1965 B.J. Habibie meraih gelar Dr. Ing dengan disertasi dibidang teknik dirgantara dengan nilai sangat baik. Pada tahun yang sama, dia menerima tawaran Hans Ebner untuk melanjutkan penelitiannya tentang Thermoelastisitas, tetapi dia menolak tawaran untuk bergabung dengan RWTH sebagai profesor. Tesisnya tentang konstruksi ringan untuk kondisi supersonik atau hipersonik juga menarik tawaran pekerjaan dari perusahaan seperti Boeing dan Airbus, tetapi ditolak Habibie lagi. Impian mereka terwujud untuk membeli mesin cuci telah terealisasikan. Setelah itu, anak kedua mereka lahir yang di beri nama Thareq.

Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm di Hamburg. Di sana, ia mengembangkan teori tentang termodinamika, konstruksi, dan aerodinamika yang masing-masing dikenal sebagai Faktor Habibie, Teorema Habibie, dan Metode Habibie. Dia bekerja untuk Messerschmitt pada pengembangan pesawat Airbus A-300B. Pada tahun 1974, dia dipromosikan menjadi wakil presiden perusahaan.

Pada tahun 1974, Presiden Suharto merekrut Habibie untuk kembali ke Indonesia sebagai bagian dari dorongannya untuk melakukan industrialisasi dan membangun negara. Habibie awalnya menjabat sebagai asisten khusus untuk Ibnu Sutowo, CEO perusahaan minyak negara Pertamina dan Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, BPPT. Dua tahun kemudian, Habibie diangkat menjadi CEO dari perusahaan baru milik negara, Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) yang pada tahun 1985 berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara, disingkat juga sebagai IPTN ) dan dikenal sebagai Dirgantara Indonesia PT. Dirgantara Indonesia sejak tahun 2000.

Pada tahun 1978, ia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi. Sebagai mentri ia membuat OFP (Overseas Fellowship Program), STMDP (Science Technology and Manpower Development Program) dan STAID (Science and Technology for Industrial Development). Ketiga program ini memberikan beasiswa kepada ribuan lulusan sekolah menengah untuk memperoleh gelar sarjana mereka dan untuk melanjutkan studi mereka untuk program master dan doktor di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan negara-negara lain. Habibie terpilih sebagai Wakil Presiden pada Maret 1998.

Pada 21 Mei 1998, hanya dua bulan setelah Habibie menjadi wakil presiden, Suharto mengumumkan pengunduran dirinya. Habibie, menurut Konstitusi, menggantikannya sebagai presiden. Keesokan harinya, Habibie mengumumkan Kabinet Reformasi Pembangunan. Dalam beberapa hari setelah pengangkatannya, dia meminta kerabatnya untuk mengundurkan diri dari posisi pemerintahan, menjanjikan pemilihan umum lebih awal, mencabut beberapa undang-undang, dan memerintahkan pembebasan tahanan politik. Setelah melepaskan kursi kepresidenan, Habibie lebih banyak menghabiskan waktunya di Jerman daripada di Indonesia, meskipun ia aktif selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penasihat presiden.

Pada awal September 2019, ia dirawat di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto, di mana ia menjalani perawatan untuk masalah jantung. Habibe meninggal pada 11 September 2019. Ia menjadi Presiden Indonesia pertama yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, di samping makam istrinya.     

Penulis: Dinda AR. Sumber: Makka, A. Makmur. 2008. The True Life of Habibie: Cerita Di Balik Kesuksesan., Wikipedia. Jakarta: Pustaka IIMaN. Gambar: kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *