Gunung Berapi

Gunung Berapi

Gunung berapi terkenal karena kekuatan destruktifnya. Menurut penelitian, 80% permukaan bumi, termasuk tanah yang kita pijak dan dasar laut, berasal dari letusan gunung berapi. Gunung Semeru yang tingginya 3.676 meter, yang meletus beberapa waktu yang lalu di Lumajang-disertai awan panas dan hujan abu, yang menyebabkan suasana sore seperti malam hari-adalah salah satu contoh betapa letusan gunung berapi dapat membawa kerusakan yang dahsyat bagi lingkungan sekitarnya. Hingga kini, jika di total, jumlah gunung api yang aktif di dunia berjumlah 1350 gunung, 500 diantaranya sudah pernah meletus.

Jika melihat-lihat lagi catatan sejarah Romawi, pasti Anda akan menemukan kisah Gunung Vesuvius yang meletus dan mengubur sebuah kota yang bernama Pompeii. Saat letusan terjadi, banyak orang yang terlambat menyadari, sehingga banyak jasad yang ditemukan dalam posisi sedang mengerjakan sesuatu. Tampaknya, awan panas yang turun dengan cepat dari gunung menuju kota, menyapu habis makhluk hidup yang masih ada. Orang-orang menjadi abu dalam waktu yang sangat singkat. Kota-kota menjadi mati, tak ada kehidupan lagi.

MANFAAT. Terlepas dari kekuatan penghancurnya, gunung berapi sebenarnya memiliki manfaat yang besar, yaitu:

  1. Energi panas bumi (geotermal). Energi panas bumi merupakan energi panas yang diambil dari gunung berapi, di mana panas dari dalam bumi digunakan untuk menghasilkan listrik. Energi panas bumi dapat dihasilkan di daerah di mana magma terletak dekat dengan permukaan. Energi ini bagus untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Di Indonesia, energi ini sudah dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang kesemuanya berjumlah 13 yang tersebar di seluruh Indonesia mulai dari Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT dan Sulawesi Utara. Di negara-negara seperti Kenya, Islandia, Selandia Baru, Filipina, Kosta Rika dan El Salvador, tenaga panas bumi menyediakan sebagian besar pasokan listrik negara tersebut – mulai dari 14% di Kosta Rika hingga 51% di Kenya.
  2. Abu (ash) gunung berapi, dalam beberapa waktu akan menjadi pupuk yang sangat baik untuk tanah. Ia juga bisa mengikat air lebih lama, sehingga membantu perkembangan bakteri yang dibutuhkan oleh tanaman. Abu vulkanik juga dapat dijadikan pupuk untuk tanaman. Ia mengandung 4 jenis mineral yang dibutuhkan tanaman: Silika (Si), Aluminium (Al), Besi (Fe), dan Magnesium (Mg). Selain itu juga:
    1. Mengusir gulma dan hama. Sifat asam dari abu vulkanis akan menyebabkan serangga tidak bertahan lama hidup disitu. Demikian pula tanaman gulma (pengganggu) yang menjadi sarang hama tinggal pun, tak bisa tumbuh dengan baik di situ.
    2. Untuk perawatan kulit. Abu vulkanik juga bisa digunakan untuk masker wajah. Konon bisa mencegah jerawat, mengecilkan pori-pori, mencegaj penuaan dini dan cocok untuk semua jenis kulit.
  3. Daerah gunung berapi biasanya sejuk dan mempunyai hawa yang menyegarkan. Ini bisa menjadi daerah wisata turis yang bisa meningkatkan perekonomian penduduk sekitar.
  4. Batu dan mineral. Manfaat lain dari gunung berapi adalah adanya material yang dikeluarkan dari perut bumi. Ini bisa berupa mineral dan bebatuan yang ditambang untuk keperluan komersial. Beberapa kegunaan dari batu dan mineral ini antara lain: memoles logam, pengerjaan kayu, insulasi, campuran jalan raya aspal, bangunan, atap, pelindung beton reaktor nuklir, ballast jalan kereta api, dan lain lain.
  5. Global Cooling. Gunung berapi juga memainkan peran penting dalam mendinginkan bumi secara berkala. Ketika abu vulkanik dan senyawa seperti sulfur dioksida dilepaskan ke atmosfer, ia akan memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa, sehingga mengurangi jumlah energi panas yang diserap oleh atmosfer. Proses ini, yang dikenal sebagai “peredupan global” (global dimming), yang memiliki efek pendinginan kepada bumi. Global cooling ini telah menjadi subjek penelitian selama beberapa dekade. Para peneliti mengamati suhu yang turun setelah letusan besar. Ternyata, semakin besar letusan gunungnya, semakin lama bumi bisa lebih dingin. Hal ini menyebabkan beberapa ilmuwan merekomendasikan agar sulfur dioksida dan lainnya (zat yang terlempar ke atmosfer saat letusan terjadi) dilepaskan ke atmosfer untuk memerangi pemanasan global, suatu proses yang dikenal sebagai rekayasa ekologi (ecological engineering).

Sumber: kompas, phys, BBC, ESDM, suara, USGS



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *