Welcome – Kisah tentang keset tua

Welcome – Kisah tentang keset tua

Keset tua berwarna coklat itu meneriakkan sapaan selamat datang bagi setiap kaki yang menginjaknya. Namun, tidak banyak yang menyadari kehadirannya. Sebagian hanya melihat sekilas, dan lebih banyak lagi yang menginjak tanpa memperhatikan dengan seksama.
Namun apapun ceritanya keset itu tetap ada di sana dengan setia dan meneriakkan keramahan dengan tetap mengucapkan selamat datang.

W E L C O M E

Selamat datang di perjalanan hidup, teman.
Kita pergi dari satu tempat ke tempat lain. Saling mengucap selamat datang dan selamat tinggal. Dari satu orang asing ke orang asing lainnya. Dan banyak dari kita yang melakukan perjalanan, namun tidak mengambil pelajaran.

Tanpa kita sadari seluruh hidup kita adalah perjalanan. Adalah kumpulan kisah, namun tidak banyak yang menyadari dan mampu mengambil hikmah.

Apa yang ingin saya bagi disini sungguh sederhana, tentang bagaimana kita berjalan setelah keset selamat datang itu kita injak dan lupakan.

Dulu, ketika saya masih kecil, saya pernah menginjak keset dengan kaki saya yang menggunakan sepatu yang kotor. Dan saya membersihkan sol sepatu saya dengan menggesekkan kaki ke permukaan keset sehingga kotorannya tertinggal di sana.

Melihat hal ini, ibu lalu menegur saya.
”Keset itu adalah untuk membersihkan kaki, bukan untuk sepatu! Buka dulu sepatu kamu, lalu baru bersihkan kaki dengan keset sebelum masuk ke dalam rumah”

Itu adalah ajaran yang sampai sekarang saya selalu ingat. Maka saya sampai saat ini tidak pernah tega untuk mengotori keset saya dengan sepatu terlebih jika saya yakin sepatu saya bernoda lumpur atau sangat kotor.

Tanpa kita sadari, sering kita mengecilkan arti sebuah benda yang kita anggap tidak penting bagi kita. Apa yang penting untuk orang lain, terkadang tidak penting bagi kita, sehingga kita memilih untuk berjalan dengan cara kita walaupun mungkin itu menimbulkan luka di hati orang lain.
Seperti kisah keset itu, apa sih sebenarnya pentingnya keset? Apa bedanya kalau saya membersihkan sepatu atau kaki saya di sana? Toh sama saja bukan? Namun ternyata hal itu memberikan nilai yang berbeda kepada Ibu saya, sehingga saya belajar untuk mengerti nilai dari sebuah keset dan kenapa Ibu saya meminta saya untuk membersihkan kaki dan bukannya sepatu di atas keset itu.

Jika setiap orang yang kita temui dalam hidup kita ibaratkan sebuah keset coklat Selamat Datang, tanpa kita sadari mungkin dalam hidup kita sering memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan keset coklat itu.

Kita tanpa sadar sering mengecilkan arti orang-orang yang terkadang tidak kita anggap penting bagi kita. Padahal sesungguhnya mereka yang datang dan pergi dalam kehidupan kita adalah pintu rezeki dan pintu selamat datang untuk kita, karena Allah tidak pernah mempertemukan seseorang dengan orang lainnya tanpa maksud.

Mungkin kita tidak pernah bermaksud demikian, namun terkadang dalam kekhilafan kita melakukan hal-hal yang menjurus ke arah sana. Seperti misalnya tidak membalas senyum orang yang tersenyum pada kita, atau tidak membalas sapaan salam orang yang memberi salam kepada kita, apapun alasannya, di satu titik pasti mereka akan kecewa karena ucapan ’selamat datang’ hanya kita anggap angin lalu…

3 Tahun yang lalu, ketika saya masih bekerja di Bank yang lama, saya sempat menerima telepon untuk penawaran KTA dari sebuah Bank. Seperti biasa, saya selalu menolak. Namun, sepanjang ingatan saya, saya tidak pernah mengeluarkan emosi ketika menolak mereka. Para agen KTA itu menawarkan, membujuk sampai memaksa, dan saya tetap menjawab dengan sopan dan sambil bernada ramah. Sampai akhirnya saya berkata ”Mas, terima kasih banyak atas tawarannya namun sepertinya kali ini saya benar-benar tidak butuh produk KTA dari Mas. Jadi mohon maaf belum bisa membantu mas. Semoga di telepon berikutnya Mas lebih beruntung ya..” jawab saya.

Setelah itu kemudian percakapan pun berakhir.

Tanpa di duga, teman sebelah meja saya berkomentar ” Windy, kamu tahu tidak, mungkin saja kamu telah menyelamatkan orang dari usaha bunuh dirinya hari ini dengan menjawab seperti itu”

Saya kaget dan lalu bertanya ” Lho emangnya kenapa Mas? Saya kan menolak mereka”

Dia menjawab ” Iya, tapi cara kamu menjawab membuat mereka tidak sakit hati dan tetap optimis dalam melakukan pekerjaan mereka. Karena dari 1000 orang yang mereka telepon mungkin 80% akan menutup telepon dengan kasar, atau berakhir dengan marah-marah. Dan jika seluruh orang yang mereka telepon memarahi mereka, apa ngga pengen bunuh diri aja rasanya tuh orang2 marketing KTA? Ada satu orang seperti kamu dengan penolakan seperti itu akan membuat dia merasa lebih optimis”

Saya hanya terdiam. Saya tidak pernah berpikir sampai ke sana. Satu-satunya alasan saya untuk menjawab secara sopan, ya karena saya ingin berlaku sopan, itu saja.

Lalu setelah saya pikirkan komentar dari teman kantor saya itu, ada benarnya juga. Sejauh mana kita menghargai diri kita tercermin dari cara kita menghargai orang lain.

Para agen KTA itu contohnya, mereka toh hanya melakukan pekerjaannya untuk bertahan hidup. Jika mereka boleh memilih, mungkin mereka juga tidak mau berjualan lewat telepon dengan resiko dimarahi ratusan Nasabah sampai kupingnya panas. Lalu, punya alasan apa saya menolak mereka dengan marah-marah juga.

Alhamdulillah hari itu saya mendapatkan pelajaran penting dari komentar teman saya itu. Bahwa banyak hal kecil yang luput dari pandangan kita, sebenarnya adalah hal yang besar bagi orang lain.

Kisah lainnya adalah kisah dengan seorang penjaga pos keluar parkiran di kampus Prasetiya Mulya. Dulu, waktu adik saya masih kuliah di Prasetiya Mulya, rute saya setiap pulang kantor dari bintaro adalah menjemput adik saya di kampusnya lalu pulang bersama. Dan di pos parkiran, ada satu orang mbak-mbak yang masih muda yang jaga.

Sambil menyerahkan karcis parkir dan membayar saya bertanya ”Lho mbak kok jaganya malem? Ngga ngeri? Kenapa ga minta pindah ke siang aja? ”

Sambil menyerahkan kembalian dia berkata ” Gapapa Mba, sudah biasa”
Lalu saya berlalu setelah mengucapkan terima kasih.

Saya tidak pernah ingat wajahnya, dan tidak pernah tahu namanya. Sampai suatu hari, waktu saya sedang keluar dari parkiran Bintaro Plaza jam 9 malam, ketika saya mau bayar parkir, mbak-mbak yang jaga di pos parkir menyapa saya dan berkata
”Malam Mbak, masih suka ke kampus Prasetiya Mulya , nggak?”
Saya kaget, dan setelah saya lihat wajahnya kayaknya ini si mbak2 yang dulu jaga di pos Prasmul.
Lalu saya bertanya ” Eh, Mbak apa kabar? Mbak yang dulu jaga di Prasmul ya? Kok ada di sini?”
”Iya Mbak saya dipindah kesini lebih enak deket rumah.”
”Oh gitu.. saya udah ga pernah ke Prasmul lagi Mba, adik saya udah lulus soalnya jadi ga ada yang dijemput lagi. Mari Mbak saya duluan ya..” jawab sayal

Terlepas dari faktor bahwa mungkin postur tubuh saya mudah diingat karena besar, atau karena saya pakai jilbab jadi saya juga mudah dikenali, atau karena kebetulan si Mbak ini punya ingatan yang sangat kuat, intinya sejak hari itu saya sadar bahwa Allah begitu banyak memberikan pintu-pintu selamat datang untuk kita melakukan hal-hal kecil, yang Insya Allah membawa kebaikan bagi orang lain dan bagi diri kita, sesederhana apapun yang kita lakukan. Namun terkadang kita terlalu sibuk untuk memperhatikannya dan memanfaatkannya untuk menjadi ladang pahala.

Seperti, sesering apa kita mengucapkan kata tolong kepada para Office Boy yang ada di kantor kita, atau berterima kasih dengan sopan kepada pelayan ketika memesan makanan di restoran , atau tersenyum dengan tulus pada tukang parkir & satpam, menyapa tukang bersih-bersih dengan apa kabar, mengobrol sejenak tukang angkut sampah, mendengarkan curhatan supir atau pembantu kita dan hal lainnya.

Sejak kejadian telepon agen KTA & Mbak2 penjaga pos parkiran itu saya sadar bahwa sayalah yang memiliki kunci untuk pintu-pintu selamat datang itu. Sayalah yang memiliki kunci pada pintu-pintu yang dapat membawa kebaikan itu. Apakah saya memutuskan untuk bersikap judes atau ramah, apakah saya memutuskan untuk sabar atau marah-marah, atau apakah saya memutuskan untuk cuek atau menyapa, itu adalah keputusan saya dan resiko saya. Saya yang akan mendapatkan sesuatunya atau kehilangan sesuatunya dari apa yang saya lakukan. Allah telah memberikan waktu 24 jam bagi kita. 2 menit yang kita lewatkan dengan beramah tamah dengan mereka tidak akan membuat kita rugi apapun.

Sebagai manusia biasa yang namanya khilaf pasti tetap ada, kadang kita dalam kondisi bad mood, capek dan lelah. Namun dalam kekhilafan jika kita memiliki nilai dan tujuan yang telah kita tanamkan maka kita akan segera istigfar ketika kita tahu kita mungkin tanpa sengaja telah menyakiti hati orang lain.

Tulisan ini, pada akhirnya hanyalah sebuah tulisan sederhana. Tentang sebuah keset tua yang ramah dan yang sering kita lupakan dalam keseharian dan perjalanan hidup kita.

Tulisan ini, pada akhirnya hanyalah sebuah metafora. Tentang bagaimana sebuah keset membuat kita melihat diri kita sendiri, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain di sekitar kita. Mereka yang terkadang kita anggap biasa-biasa namun sebenarnya menawarkan ketulusan dan dapat menjadi ladang kebaikan bagi kita. Hanya bagi kita yang ingin mengambil hikmah dari setiap perjalanan.

Keset tua berwarna coklat itu masih ada di depan pintu.
Masih meneriakkan sapaan ”W E L C O M E” bagi mereka yang menginjaknya, melewatinya, mengotorinya dan melupakannya.

Saya berhenti sejenak untuk menyapanya kembali. Membelainya dengan lembut di permukaan kasarnya yang sudah mulai aus karena usia.
Dan kali ini saya membisikkan sebuah kata , ”T E R I M A K A S I H” , karena sudah mengajarkan sesuatu lagi untuk saya hari ini….

Alhamdulillahirabbil’alamin…..

Tulisan di posting oleh Windy di milis Prasetiya Mulya pada 8 mei 2011 dengan judul “Welcome” pada 8 Mei 2011.
gambar: kaskus.co.id

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *