Tuhan Tidak Suka Berhutang

Tuhan Tidak Suka Berhutang

Tuhan Tidak Suka Berhutang, dimuat di harian Kompas.

Oleh: Steve Kosasih.
Sebentar lagi republik kita tercinta berusia 70 tahun. Untuk suatu negara, 70 tahun adalah usia yang menunjukkan kematangan. Semakin tua usia suatu negara, seharusnya semakin baik negara itu (meskipun ada juga negara yang semakin tua semakin miskin) karena masyarakatnya bisa belajar banyak dari kesalahan-kesalahan pendahulu mereka.

Indonesia di usia 70 tahun pasti jauh lebih keren dibandingkan saat baru merdeka dulu. Namun, untuk manusia, menjadi tua adalah sesuatu yang dihindari. Sebagian malah menolak tua dan hidup seakan usianya akan terus muda. Secara statistik, semakin banyak penduduk dunia yang hidup berkekurangan di usia tua meski pun berjaya di usia muda.

Menjadi tua itu pasti
Saat saya berulang tahun ke-30, mentor saya memberi nasehat, “Sekarang usiamu sudah 30 tahun. Sudah waktunya menyiapkan diri untuk menyambut masa pensiun.” Saya pun terkejut. Saya masih muda dan masih 25 tahun lagi mencapai usia pensiun. Mengapa saya harus memikirkan pensiun saya saat itu? Mentor saya menjawab,”Menjadi tua itu pasti. Bertumbuh menjadi tua dengan baik, itu pilihan.”
Saya pun bertanya apa yang harus saya persiapkan.”Berinvestasilah. Ada banyak yang perlu diinvestasikan untuk masa depan. Tapi, yang paling penting, berinvestasilah pada dirimu sendiri dan orang lain.” Saya pun mengangguk-angguk meski pun sebetulnya tidak terlalu mengerti apa maksud kata-kata itu.

Berinvestasi pada sesama
Masa kecil saya hampir seluruhnya saya habiskan di sekolah. Bukan karena saya rajin, melainkan karena ibu saya seorang guru dan saya bersekolah di sekolah yang sama tempat ibu saya mengajar. Sepanjang masa sekolah, saya melihat ibu saya sering meluangkan waktu memberikan les gratis bagi siswa-siswanya setelah pulang sekolah. Padahal, tidak semuanya siswa tak mampu.
Saya heran sekali. Gaji ibu saya sebagai pegawai negeri sipil tidaklah besar. Ayah saya pun hanya pegawai biasa. Saya lalu bertanya, mengapa ibu saya masih mau memberikan kursus gratis, padahal seharusnya banyak yang mau membayar jasanya. Ibu saya pun menjawab,”Sebagai pendidik, sudah menjadi kewajiban Mami untuk membantu anak-anak itu mengerti. Lagi pula, buat Mami, pekerjaan ini ibadah, karena datangnya dari Tuhan. Kalau ini ibadah, masa kita hitung-hitungan sama Tuhan? Percayalah, Tuhan tidak suka berhutang.” Saya pun mengangguk-angguk meski pun sebetulnya tidak terlalu mengerti apa maksud kata-kata itu.

Ibu saya resmi pensiun sebagai PNS saat menginjak usia 60 tahun tetapi masih terus diminta mengabdi hingga usianya 77 tahun. Kesehatannya pun baik dan hidupnya dimudahkan. Saya pun ikut mendapatkan berkah dari kebaikan yang ditanam ibu saya di masa mudanya. Saya pun mengerti bahwa ibu saya telah berinvestasi dengan baik pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Tuhan tidak akan berhutang, tidak ada kebaikan yang akan terbuang sia-sia.

Steve Kosasih, pemimpin perusahaan transportasi publik.
Tuhan Tidak Suka Berhutang.
gambar: telegraph.co.uk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *