Sepeda dan Semangkok Bakso

Sepeda dan Semangkok Bakso

Oleh: Iwan Pramana.

Kejadian ini terjadi sewaktu saya SMP. Hari itu sabtu pagi. Saya dan sepeda balap saya yang belum genap berumur sebulan sampai di perempatan jalan Pemuda Surabaya. Seperti biasa, sabtu-sabtu begini saya ke tokonya pramuka di sebelah bioskop Mitra, buat beli perlengkapan. Kadang beli peluit, Tanda Kecakapan Khusus (TKK) baru atau majalah. Sekitar jam 10-an saya sudah di lampu merah, selesai dari toko dan mau pulang. Saya gak tahu sekarang, tapi dulu perempatan itu ramai sekali.

Pas lampu hijau.

Bergegas saya pacu sepeda balap saya, wus..wus..wus.. . Dalam hati, “Masa sprint sama motor kalah..”

10 meter, 20 meter, saya masih di depan, hingga tiba-tiba.. pada kecepatan tinggi itu..
Tiba-tiba waktu berjalan sangat lambat…dan anehnya, saya sempat sadar kalau waktu berjalan lambat.

Detik pertama, mur yang menjepit ban depan lepas sehingga kendor, stang tidak stabil.
Detik kedua, ban depan lepas, garpu yang menjepit ban depan sebagian masuk ke jeruji ban depan.
Detik ketiga, ban depan penyok terkena garpu, sepeda terangkat.
Detik keempat, saya terbang seperti perenang yang akan terjun ke kolam renang
Detik kelima, seperti superman , saya mendarat di aspal beberapa meter dari sepeda.

Antara sakit dan malu saya segera menoleh kebelakang, seandainya ada mobil yang melintas, saya harus bergegas minggir, sepeda sudahlah tinggal riwayat. Anehnya, motor-motor dan mobil yang tadi begitu saya menoleh kebelakang, semuanya gak ada. Sepiiii…..
Beberapa orang membantu saya berdiri. Siku tangan kanan dan kiri lumayan sakit, namun yang paling parah dagu bagian kiri, sobek.

Saat itu saya tinggal di daerah Ploso, kalau dari stadiun TambakSari sekitar 2 kilo. Jadi total sekitar 5 kilo saya berjalan pulang dari tempat kejadian, sambil menuntun sepeda yang ringsek bagian depan.
Sepanjang perjalanan saya mikir, apa yang menyebabkan.
Kan sepedanya baru.
Kan tidak ada tanda-tanda sebelumnya kalau murnya bakal lepas.
Kan .. kan.. kan.. dan seribu kan lainnya.

Hingga tiba-tiba entah bagaimana mulainya, ingatan saya mundur beberapa jam sebelumnya, ke jumat malam.
Ibu saya kadang kalau malam-malam suka beli makanan yang lewat depan rumah. Kadang beli nasi goreng, kadang beli bakso, macem-macem lah. Biasanya saya selalu ditawari, “Abang mau?” Tentu saja jawaban saya selalu mau. Jadi, di otak saya, pokoke kalau Mama beli makanan, aku pasti dapat jatah.

Entah, malam itu aneh. Saya tidak mendengar ada tukang jajanan lewat. Saya lagi di ruang dalam, pas saya ke ruang depan, saya lihat Ibu saya sedang asik makan bakso!
Dalam hati saya, “Lho, kok beli gak bilang-bilang..?!”, kata-kata yang keluar saat itu..
“Kok Mama beli bakso gak bilang-bilang sih..?!” entah kenapa saya marah. Dan itu membuat Ibu saya sampai hampir tersedak makannya. Sambil mengangsurkan mangkok bakso dan sambil mengunyah bakso yang masih dimulut, beliau menyodorkan mangkok baksonya. Sepertinya akan berkata, namun tidak bisa karena terganjal bakso ,”Abang mau, ni Mama bagi..”

Namun, saya sudah terlanjur marah! Saya gak mau, saya masuk kamar dan tidur dalam keadaan marah!

Esok paginya, ketika pergi saya tidak pamit. Biasanya selalu mencium tangan bunda sebelum berangkat. Pagi itu tidak. Masih kesel saya sama kejadian semalam.

Sambil berjalan pulang, saya merenungi kejadian semalam… Saya ingat apa yang sering dikatakan orang-orang ,”Gusti Allah ora sare….”
Mata saya tiba-tiba basah, biarlah. Mungkin orang-orang melihatnya karena saya habis jatuh dari sepeda dan lecet disana-sini. Tapi, sungguh bukan itu sebabnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Allah SWT menunjukkan kepada saya bahwa yang saya lakukan kepada Ibu saya itu salah.

Sambil berjalan, saya bernyanyi kecil untuk menghibur diri saya..
Bila aku besar nanti,
Kupergi dengan Ibu
Ibu boleh pilih sendiri
Kemana yang dituju
Bila ibu pilih Jogja Bandung dan Semarang
Aku yang membeli karcisnya naik kapal terbang

Hingga hari ini, kalau Anda lihat di dagu saya bagian kiri, ada tanda dari kejadian beberapa puluh tahun lalu. Mungkin jika Anda punya hal berat di dalam hati, cobalah cek, jangan-jangan seperti saya, karena menggores hati Ibunda.

Jakarta, 11 Agustus 2014

gambar: hdwallpapers.in
note: artikel juga dimuat di Kompasiana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *