Pelatihan

Pelatihan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pelatihan atau Magang adalah proses melatih, kegiatan atau pekerjaan. Sehingga dengan demikian adalah wajar jika kemudian setelah pelatihan selesai kita mengharapkan adanya perbaikan baik dalam kinerja / kompetensi atau pun dana sikap sehari-hari tergantung dari pelatihan yang di ikuti. Namun, yang sering terjadi dan banyak dikeluhkan adalah hasil pelatihan yang tidak sesuai dengan harapan. Mengapa hal ini terjadi?

Dari survey sederhana yang kami lakukan terhadap para peserta pelatihan dan beberapa pelaku aktif yang terlibat dalam penyelenggaraan pelatihan, kami mendapatkan informasi sebagai berikut:

1. Pelatihan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan. Ada pelatihan yang dilakukan hanya sekedar ‘formalitas’ karena sudah masuk dalam kalender tahunan perusahaan di mana setiap orang harus mengikuti pelatihan sebanyak X jam. Karena kesibukan sehari-hari baik dari bagian training mau pun dari peserta kurang melakukan komunikasi sehingga pelatihan yang diberikan tidak membawa dampak atau sangat sedikit pengaruhnya terhadap peserta pelatihan yang di kirim untuk menimba ilmu. Ketika di kelas mereka menjadi pasif karena materi yang dibawakan fasilitator sama sekali tidak menarik karena tidak berhubungan dengan aktivitas yang dilakukannya sehari-hari.

2. Paradigma bahwa mengikuti pelatihan lebih baik dari pada bekerja di kantor (sekalian refreshing). Paradigma seperti walaupun secara prosentase belum ada yang menyebutkan jumlahnya secara pasti, namun bila dilakukan survey acak di setiap kelas, hampir selalu ada peserta yang mempunyai paradigma berangkat ke pelatihan dengan paradigma yang salah. Maka dapat dipastikan akan di dapat hasil yang tidak maksimal. Ketika di kelas mereka cenderung menjadi orang pertama yang bertanya, “Pulangnya jam berapa? Apakah bisa dipercepat?”

3. Pekerjaan kantor yang selalu membuntuti. Seringkali ketika seseorang sedang asyik mengikuti pelatihan tiba-tiba bergegas keluar untuk menerima panggilan telepon atau menerima utusan dari kantor yang membawa segepok berkas untuk ditandatangani. Beberapa peserta malah lebih kasihan karena harus kembali ke kantor karena pekerjaan yang sudah didelegasikan ternyata tetap meminta kehadirannya.
Ibarat dia sedang menikmati bakso yang sangat enak tiba-tiba ada orang disebelahnya yang bertanya dengan sopan, “Mas, bagi baksonya ya”, sambil langsung mengambil bakso dari mangkok yang sedang ada dihadapannya. Menurut Anda, apakah orang ini bisa berkonsentrasi hingga pelatihan selesai? Apakah ia bisa berkontribusi dengan lebih baik dari pelatihan yang diikutinya?

4. Sekali ikut pelatihan langsung ingin berhasil. Ini adalah harapan yang sangat wajar dari mereka yang menugaskan peserta untuk mengikuti pelatihan. Apakah itu atasannya, bagian training, dll. Namun, perlu dicermati bersama bahwa untuk berhasil dalam suatu hal, kita tidak cukup hanya ‘tahu’ tanpa ‘mau mempraktekkannya’. Banyak pelatihan di cap gagal (bahkan oleh peserta sendiri) karena tidak membuat mereka ‘tergerak’ untuk melakukan perubahan. Sesungguhnya yang terjadi di dalam kelas adalah suasana yang dibangun dengan kondusif sehingga ketika selangkah sesaat peserta keluar dari kelas, disitulah ujian sebenarnya sedang berlangsung. Belum lagi pengaruh dari The Curve of Forgetting di mana semakin lama pelatihan akan semakin menyisakan sedikit saja dari materi yang pernah di dapatkan. Karena itulah perlunya dilakukan review dan review serta check dan cross check aplikasi materi pelatihan di lapangan.

5. Implementasi tergantung peserta. Pada akhirnya, sehebat apa pun seorang trainer di dalam kelas, ia tetaplah seorang manusia biasa yang hanya bisa mempengaruhi tetapi tidak dapat memutuskan akan seperti apa nantinya materi pelatihan akan diterapkan oleh peserta setelah pelatihan selesai. Ia hanya bisa menyarankan, memberi form-form monitoring, memberi semangat, dan menyampaikan bagaimana caranya agar materi yang ada di dalam kelas bisa dijalankan dengan baik di lapangan. Namun, tetap bahwa 100% keputusan implementasi materi pelatihan ada pada peserta sendiri.

6. Trainer atau fasilitator yang kurang kompeten. Ibarat menonton pertunjukan musik, maka fasilitator adalah bintang utama yang ada di panggung. Serendah apa pun ia menyederhanakan kehadirannya di sana, tetap ia adalah aktor utama yang ada dalam sebuah film. Karena itu, ia memegang peranan yang sangat penting dalam kesuksesan sebuah pelatihan. Tidak diragukan lagi bahwa jam terbang seorang fasilitator akan membawa peserta secara berbeda dalam membahas isu yang sedang dibahas. Tetapi, bukan hanya kemampuannya saja yang harus tinggi, tetapi bagaimana cara ia ‘menyambut’ peserta sejak awal kelas akan dimulai hingga proses diskusi yang alot akan memberi pengaruh besar terhadap kesuksesan sebuah kelas pelatihan.

Lalu? Apa gunanya pelatihan?
Sangat berguna! Jika disesuaikan dengan kebutuhan yang dibutuhkan dan di lakukan proses monitoring dengan menggunakan Level Evaluasi Pelatihan sangat penting dilakukan setelah pelatihan dijalankan.

gambar: moscowfirst.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *