PAS Coaching Model (2)

PAS Coaching Model (2)

PAS sendiri merupakan akronim, sama seperti model yang lain. Bedanya adalah, akronim yang digunakan bisa digunakan sebagai rujukan untuk pertanyaan yang diajukan, sehingga coach tidak akan begitu kesulitan menghubungkan akronim dengan isinya. Mari kita kupas secara singkat satu per satu. Nanti detailnya, bisa dibaca di bukunya.

P: Problem atau Potensi. Dibagian ini fokusnya adalah pada problem atau potensi yang hendak dibahas selama proses coaching berlangsung. Bagian ini adalah inti awal dari tahapan yang tidak bisa diabaikan. Karena, jika terjadi kekurangan informasi, dapat menyebabkan proses coaching di tahap berikutnya menjadi tidak lancar. Dalam PAS, tahap ini adalah tahap kunci untuk mendeskripsikan Problem atau Potensi yang akan dibahas. Pertanyaan pertanyaan yang bisa diajukan antara lain:

Problem / Potensi apa yang akan dibahas?”

“Apa pentingnya membahas Problem / Potensi ini?”

“Sejauh mana dampak bahasan kita mengenai Problem / Potensi ini?”

“Apa dampaknya jika Problem / Potensi ini kita biarkan saja?”

Jadi intinya, dalam tahap ini, pertanyaan pertanyaan yang kita ajukan sebaiknya menggunakan akronim P, yaitu Problem / Potensi

A: Action. PAS yang kedua adalah Action. Di tahap ini kita membahas mengenai tindakan-tindakan yang sudah dilakukan, sedang dan akan dilakukan. Kembali lagi mohon diingat, agar memudahkan, gunakan pertanyaan yang mengandung kata-kata Action. Contohnya:

“Apa saja action yang telah Anda lakukan?”

Bagaimana hasil action yang telah dilakukan?”

Action alternatif apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut?”

“Jika ingin dijalankan, alternatif action apa saja yang mungkin dijalankan agar projectnya berhasil?”

S: Solution. PAS terakhir adalah solution atau pilihan tindakan yang akan kita pilih sebagai tindak lanjut. Sama dengan dua hal diatas, di tahap ini pun, sebaiknya pertanyaan yang diajukan menggunakan kata kata Solution / solusi. Contohnya sebagai berikut:

Solusi apa yang muncul di benak Anda sekarang?”

“Apakah solusi tersebut bisa dijalankan?”

“Apa ada alternatif solusi lain yang lebih mudah dijalankan?”

“Kira-kira bagaimana hasil penerapan solusi ini terhadap kinerja Anda?”

Yang perlu dipahami adalah, biarkan pertanyaan yang timbul mengalir, tidak perlu dibuat terlebih dahulu. Kalaupun Anda ingin membuatnya, buat saja kunci kunci pokok hal hal yang ingin dibahas, bukan detailnya. Oh iya, ini link bukunya jika ingin membaca. Klik disini.

Oleh: Iwan Pramana. Penulis adalah coach bersertifikasi ICF (ACC). Sumber gambar: td.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *