4 Prinsip Menjemput Keberuntungan

4 Prinsip Menjemput Keberuntungan

Apakah Anda orang yang beruntung?
Atau.. apakah Anda orang yang selalu diliputi oleh ketidakberuntungan?
Atau.. sesekali Anda beruntung dan sesekali tidak beruntung?
Menurut Anda apakah keberuntungan hanya milik orang-orang tertentu?
Apakah bisa dipelajari?
Atau hanya masalah nasib?

DR Richard Wiseman dalam bukunya The Luck Factor mengatakan bahwa keberuntungan sesungguhnya ada yang bisa ‘dijemput’ dengan melakukan hal-hal tertentu. Penelitiannya selama 8 tahun di Inggris dengan melibatkan banyak responden menunjukkan bahwa ada faktor-faktor yang jika dilakukan secara kontinyu akan meningkatkan keberuntungan kepada orang yang melakukannya. Menurutnya, tidak ada orang yang lahir dengan keberuntungan.

“Keberuntungan tidak mungkin hanya merupakan suatu kejadian yang kebetulan. Terlalu banyak data yang menunjukkan bahwa orang secara konsisten mengalami keberuntungan dan ketidakberuntungan,” ujarnya.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada 4 perbedaan utama antara orang yang beruntung dan orang yang tidak beruntung.
1. Orang beruntung terus-menerus berjumpa kesempatan kebetulan. Mereka tidak sengaja bertemu orang-orang yang berakibat sangat menguntungkan bagi hidup mereka dan menemukan kesempatan yang menarik dalam koran dan majalah. Sebaliknya, orang yang tidak beruntung jarang mengalami kejadian seperti ini atau malah bertemu orang yang berakibat negatif bagi hidup mereka.

2. Orang beruntung juga membuat keputusan-keputusan yang baik tanpa tahu alasannya. Mereka seolah tahu kapan sebuah keputusan bisnis layak dibuat atau bahwa seseorang sebaiknya tidak dipercaya. Keputusan orang yang tak beruntung cenderung menghasilkan kegagalan atau penderitaan.

3. Impian, ambisi dan tujuan orang beruntung berkemampuan ajaib menjadi terkabul. Sekali lagi, orang-orang yang tidak beruntung adalah kebalikannya – impian dan ambisi mereka tetap menjadi khayalan yang sukar ditangkap.

4, Orang beruntung juga memiliki kemampuan untuk mengubah kemalangan menjadi kemujuran. Orang tidak beruntung tidak memiliki kemampuan ini dan kemalangannya tidak menyebabkan apa-apa kecuali kesedihan

Menurut DR Wiseman -setelah melalui penelitian yang panjang- orang-orang beruntung itu tanpa sadar telah menerapkan 4 prinsip untuk menjemput keberuntungan yang telah terbukti secara ilmiah.

4 Prinsip Keberuntungan
Prinsip 1: Memaksimalkan kesempatan kebetulan.
Orang yang beruntung menciptakan, melihat dan bertindak atas kesempatan kebetulan dalam hidup mereka. Hidup mereka penuh dengan kesempatan kebetulan. Mereka seringkali yakin bahwa keberuntungan keberuntungan ini merupakan kebetulan murni. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa hal hal yang tampak kebetulan ini adalah hasil bentukan psikologis orang beruntung. Cara mereka berpikir dan berperilaku membuat mereka lebih melihat, menciptakan dan bertindak atas kesempatan yang muncul.

1. Mereka lebih ekstrovert dan menjaga hubungan dengan orang lain. Secara sederhana, mereka DUA KALI tersenyum lebih banyak dibanding orang tidak beruntung.

2. Mereka lebih tenang dan santai dalam menyikapi masalah hidup.
Dengan cara memandang seperti ini mereka lebih peka terhadap kesempatan yang datang. Dibanding dengan yang tidak beruntung, tingkat kecemasan dan ketegangan orang beruntung 50% lebih rendah. Ternyata, dengan tidak mencoba terlalu keras, bisa membuat kita ‘melihat’ sesuatu lebih banyak.

3. Mereka terbuka terhadap hal-hal baru.
Mereka senang mencoba pengalaman baru, makanan baru dan cara baru dalam melakukan sesuatu. Mereka tidak terjebak oleh rutinitas yang membosankan. Dengan cara demikian hidup mereka lebih berwarna warni. Anda bisa mencobanya dari sekarang: carilah rute ke tempat kerja yang baru, jalankan hobi yang selalu tertunda, berkenalan dengan orang baru, dll.

Prinsip 2: Dengarkan intuisi keberuntungan Anda.
Orang yang diliputi keberuntungan membuat keputusan dengan menggunakan intuisi mereka. Mereka langsung tahu apakah keputusan yang dibuat itu tepat atau tidak. Hal ini dipengaruhi oleh alam bawah sadar mereka.

1. Mereka selalu mendengarkan intuisi mereka. Riset menunjukkan bahwa dalam kehidupan pribadi mereka menggunakan 90% intuisi dan 80% dalam kehidupan profesional. Intuisi orang yang beruntung secara amat mengejutkan, banyak yang akurat. Bahkan mereka juga terkejut akan ketepatan keputusan yang mereka ambil. Bagi mereka, itu seperti sebuah keberuntungan. Padahal, itu adalah hasil dari pikiran bawah sadar mereka.

Sebuah riset yang dilakukan menunjukkan bahwa manusia cenderung menyukai hal-hal yang pernah ‘dilihat’ sebelumnya dibanding dengan yang belum pernah mereka lihat. Ternyata hal ini muncul secara konsisten di beberapa penelitian lain. Efek ini disebut dengan efek ‘keakraban’. Itulah sebabnya para pemasar gemar beriklan, agar alam bawah sadar konsumen memilih produk mereka jika menemukan beberapa produk sejenis di rak supermarket.

2. Mereka mengambil langkah untuk meningkatkan intuisi. Orang yang beruntung banyak belajar bagaimana meningkatkan intuisi yang mereka miliki. Antara lain dengan teknik-teknik meditasi, kembali ke akar masalah, mencari tempat yang tenang serta dengan tidak mengotori pikiran dengan hal yang tidak diperlukan.

Prinsip 3: Harapkan kemujuran.
Orang yang penuh dengan keberuntungan selalu berharap bahwa di masa depan impian mereka akan dapat dicapai. Mereka berharap bahwa keberuntungan yang mereka alami hari ini dapat terus terbawa hingga ke masa depan. Keyakinan dan harapan ini sedemikian besar sehingga mereka sangat optimis dalam memandang masa depan.

Mereka juga meyakini bahwa meski pun kecil kemungkinan akan berhasil untuk mencapai impian yang mereka inginkan, namun mereka tetap bersikeras dan gigih untuk mengupayakannya. bila dibandingkan dengan orang yang tidak beruntung, banyak dari mereka menyerah bahkan sebelum ‘pertandingan’ dimulai. Orang-orang yang beruntung mempunyai harapan dan mengupayakannya.

Pada peneliti di Finlandia mengadakan penelitian terhadap 2000 responden pria dan mengelompokkannya ke dalam 3 kelompok.
Kelompok 1: Negatif, memandang masa depan suram.
kelompok 2: Positif, memandang masa depan menjanjikan
Kelompok 3: Netral, memandang masa depan netral
Para peneliti mengamati ketiga kelompok ini selama 6 tahun. Hasilnya: Pria di kelompok 1 lebih mudah meninggal karena kanker, jantung, kecelakaan dibanding kelompok 3. kelompok 2 mempunyai tingkat kematian yang jauh lebih rendah di bawah kelompok 3.

Prinsip 4: Ubah kemalangan menjadi kemujuran.
Orang beruntung dapat mengubah kemalangan yang dialaminya menjadi keberuntungan. Ini dikarenakan mereka bisa melihat sisi positif dari kemalangan yang mereka alami. Selain itu, mereka yakin bahwa dalam jangka panjang kemalangan ini akan berubah menjadi kemujuran. Dan dalam menyikapi kemalangan, mereka tidak berlama-lama menikmatinya.

Di jepang ada boneka yang disebut dengan Boneka Daruma. Boneka Daruma adalah boneka dengan bentuk bulat dengan bagian dalam yang kosong serta tidak memiliki kaki dan tangan. Pada umumnya boneka Daruma berwarna merah, bergambar orang berkumis panjang dan digambar tanpa bola mata. Jika digulirkan maka boneka ini akan kembali berdiri karena diberi pemberat di bawahnya. Boneka Daruma dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan lambang harapan yang belum tercapai. Konon Daruma berasal dari kata Bodhidharma yaitu seorang pertapa dari India yang kemudian dijuluki Bapak Budhisme Zen yang saat itu ajarannya masuk ke Jepang pada zaman Kamakura (1185-1333) dan terkenal di kalangan Samurai.

Nana Korobi Ya Oki adalah ungkapan yang diajarkan oleh Daruma yang berarti kalau jatuh tujuh kali, bangun delapan kali. Seperti halnya Daruma yang mengadakan perjalanan dari India ke China untuk menyebarkan agama Budha. Hal tersebut mengajarkan kita agar tidak berputus asa jika kita ingin berhasil.

sumber: The Luck factor, Richard Wiseman.
gambar: topwalls.net

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *