Mengalah itu indah

Mengalah itu indah

Mengalah itu indah. Dari sebuah buku yang cukup klasik seseorang bertanya kepada Gede Prama:
Pak Gede Yth, sebagaimana kita tahu, hidup di mana pun semakin ditandai oleh stres. Di rumah kita dihadapkan pada tuntutan yang semakin meningkat. Di jalan kita dihadang oleh sejumlah kemacetan, pencopetan atau bayang-bayang kecelakaan. Di kantor kita dihantui oleh persaingan karier yang semakin meningkat. Di kalangan keluarga hubungan kita cenderung renggang dari hari ke hari. Secara keseluruhan semua ini membuat kehidupan zaman sekarang ini dipenuhi oleh stres. Bagi orang yang berpendidikan tinggi seperti Bapak mungkin beban stres lebih ringan. Namun bagi kebanyakan orang kecenderungan ini seperti ‘neraka’ yang menakutkan. Pertanyaan saya, bagaimana mengelola stres di lingkungan seperti ini? Ir. BP, Bekasi

Saudara BP, Anda benar bahwa beban kehidupan sekarang ini semakin berat. Akan tetapi tidak otomatis ia membuat stres semakin berat. Coba bayangkan cara kerja sejumlah office boy atau pekerja rendahan lainnya. Umumnya mereka bekerja sambil bernyanyi. Bersahabat satu sama lain. Jauh dari intrik dan politik. Dan yang paling penting, mereka memiliki frekuensi senyum yang lebih sering dari orang kelas menengah atas.

Apa yang ingin saya ceritakan dengan membayangkan kehidupan orang bawah ini, bukannya kehidupan yang membuat kita stres. Melainkan, cara kita menyimpulkannya. Kalau bicara kehidupan, mereka memiliki tantangan hidup yang jauh lebih berat dari kita. Jangankan bicara mobil, rumah, pesta, kartu kredit, kondominium atau perlambang kelas menengah atas lainnya. Mereka umumnya hidup hari ini untuk hari ini. Yang mengagumkan, cara mereka menyimpulkan kehidupan jauh lebih menerima dari kita yang sudah cenderung dibuat lebih serakah.

Ijinkan saya membagi pengalaman stres saya sepulang dari Inggris. Beberapa bulan saya sempat stres berat dibuat oleh lalu lintas Jakarta. Pasalnya sering kali haluan saya diambil orang lain. Pada posisi yang menurut undang-undang lalu lintas benar, tetap saja ada orang yang menyerobot. Pada beberapa keadaan saya nyaris berkelahi dengan sopir metromini. Adu mulut dengan pengemudi lain. Nyaris ditabrak orang dan masih banyak lagi kejadian pahit lainnya. Yang lebih mengharukan, saya sempat heran kok ada negeri yang semrawut lalu lintasnya seperti ini.

Menyadari kurang sehat hidup seperti ini saya kemudian melakukan introspeksi. Jika saya menyalahkan semua orang, jangan-jangan yang salah diri saya sendiri. Dengan bermodalkan kesadaran terakhir, cara saya mengemudi saya ubah total. Tidak lagi berpedoman pada apa yang disebut undang-undang lalu lintas sebagai sesuatu yang ‘benar’ melainkan mengambil sikap lebih banyak mengalah. Ternyata hidup saya jauh lebih indah dengan mengalah. Stres berkurang. Tidak pernah adu mulut. Apa lagi berkelahi dengan supir metromini. Prinsip yang sama juga berlaku pada kehidupan kerja.

Dulu, bila saya merasa benar siapa pun akan saya hadapi. Jika saya tidak melanggar peraturan tidak ada satu pihak pun yang saya takuti. Akan tetapi pengalaman mengajarkan bahwa keindahan kehidupan tidak sesederhana kebenaran peraturan.

Bertolak dari sinilah saya menemukan prinsip ‘mengalah itu indah’.

Di jalan, di rumah, di kantor, sikap mengalah lebih banyak berakhir dengan keindahan dibanding kesusahan. Selisih waktu sampai di kantor hanya beberapa menit namun tanpa stres. Bukankah atasan lebih menghargai sikap rendah hati dibanding menggurui? Tidakkah ayah maupun saudara kita akan lebih respek kalau kita lebih banyak melayani dibanding meminta perhatian?

Saya menemukan seorang wanita yang sangat saya kagumi dalam kehidupan saya. Ia lebih banyak mengalah. Ajaibnya, ia tampil jauh lebih awet muda. Lebih percaya diri. Lebih sedikit terkena penyakit. Lebih banyak teman. Semua ini menunjukkan, bukan kehidupan yang memicu stres. Melainkan cara kita menyimpulkannya. Stres akan jauh berkurang bila kita belajar meninggalkan dunia ‘benar dan menang’. Untuk kemudian, sesekali mencoba dunia mengalah itu indah.

Literatur: Sukses Berdasarkan Prinsip Air, Gede Prama, Elex Media Komputindo, 1997
Sumber gambar: Istyres.com
Mengalah itu indah

Tagged with
Newer Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *