Kisah 1000 Kelereng

Kisah 1000 Kelereng

“Hargailah hari ini seakan hari terakhirmu dan belajarlah seakan hidup untuk selamanya”

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan yang sunyi dan senyap. Sebab aku yang pertama bangun pagi, atau… mungkin juga karena hari ini aku begitu senang karena hari sabtu adalah hari libur dan aku tak perlu pergi bekerja. Apa pun alasannya, beberapa jam pertama di Sabtu pagi amatlah menyenangkan.

Dan pada suatu hari sabtu pagi pula perubahan besar dalam hidupku terjadi. Begini kisahnya:
Pagi itu aku sedang asyik mendengarkan radio. Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara bincang-bincang sabtu pagi. Aku mendengar suara bintang tamu – seseorang pria yang menurutku agak tua – dengan suara emasnya sedang bercerita mengenai kisah 1000 kelereng kepada seseorang di telepon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

“Gini Mas Tom, saya tahu Mas Tom adalah orang yang super sibuk dengan pekerjaan di kantor. Saya yakin gaji Mas Tom pasti jauh lebih besar dari gaji kebanyakan orang. Termasuk gaji saya dulu, hehe.. bercanda ni mas Tom. Dari jam kerja yang rata-rata orang 8 jam per hari, Mas Tom bisa lebih dari itu. Tapi, seperti yang Mas Tom sampaikan tadi, ada efeknya, yaitu Mas Tom jarang dirumah. Kasus Tricia, anak mas Tom yang kecewa kepada papanya karena tidak bisa hadir saat dia menari di sekolah cukuplah sebagai tandanya. Apalagi mas Tom sebelumnya sudah berjanji untk bisa hadir kan?”

Si bintang tamu melanjutkan,“Saya ingin sharing sebuah kisah yang saya alami kepada Mas Tom, semoga bisa sedikit memberi alternatif solusi akan masalah yang sedang mas Tom alami. Kalau bagus silahkan diambil, kalau jelek ya tinggalkan saja.”

Lalu mulailah ia menerangkan Kisah 1000 kelereng nya. “Kira-kira beberapa tahun lalu, saya duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar itulah. Lalu, iseng-iseng saya kalikan 75 tahun ini dengan 52 minggu dalam setahun. Hasilnya adalah 3900 yang merupakan jumlah 1 dari 7 hari yang di miliki semua orang selama hidupnya. Hari itu bisa hari Senin, Selasa, rabu, atau Sabtu. Naahh,.. karena hari sabtu saya libur, maka saya pilih hari sabtu.”

“Mas Tom, pada waktu saya menghitung itu, usia saya sudah 55 tahun. Artinya, saya sudah melewatkan 2800 hari sabtu. Kalau usia saya habisnya di 75, berarti sisanya tinggal 1000 hari sabtu.”

“Saya lalu pergi ke toko mainan dan membeli semua kelereng yang ada. Butuh tiga toko untuk mendapatkan 1000 kelereng. Kemudian kelerengnya saya bawa pulang, saya masukkan ke dalam sebuah kotak plastik bening besar dan saya taruh di ruang kerja di rumah. Sejak itu, setiap Sabtu.. selalu saya ambil sebutir kelereng untuk saya buang. Artinya, sisa umur saya sudah berkurang satu minggu…”

Radio hening. Hanya suara musik pengiring yang masih terdengar.

“Ternyata Mas Tom, dengan membuang kelereng-kelereng itu satu demi satu, saya lebih fokus pada hal-hal yang paling penting dalam hidup saya. Kita tidak tahu kapan usia kita akan berakhir, namun dengan kelereng-kelereng itu, kita bisa mengukur kira-kira hal penting apa yang belum kita lakukan dalam hidup kita.”

“Mas Tom, pagi ini, kelereng terakhir telah saya ambil. Saya sudah 75 tahun. Sudah tua ya, hehe.. Saya berfikir,.. kalau saya sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Tuhan telah memberi saya waktu tambahan ekstra untuk saya habiskan dengan orang-orang yang saya sayangi”.

“Doa saya, mas Tom bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang mas Tom sayangi juga..”

Untuk sesaat, radio hening. Penyiar radio juga tida berkomentar apa-apa. Mungkin ia mau memberi kesempatan kepada para pendengarnya, untuk mencerna kisahnya.

Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi kemudian aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”.
“Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum.
“Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak.”
“Ingetin nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”

Sumber: email dari Sjahesti Anastasia (sjahesti@pertamina.com), cerita dimodifikasi tanpa mengurangi maknanya. Sumber gambar: picstopin.com
Kisah 1000 Kelereng

Tagged with

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *