Meningkatkan Kinerja dengan Coaching (1)

Meningkatkan Kinerja dengan Coaching (1)

Oleh: Sylvina Savitri *)

Meningkatkan Kinerja dengan Coaching. Banyak orang beranggapan coaching hanya diberikan pada karyawan yang bermasalah. Pandangan ini tentu saja keliru. Bila organisasi serius terhadap peningkatan kinerja karyawan, maka coaching tidak boleh lagi di pandang sebagai cost, namun investasi.

Produktivitas tinggi dan peningkatan kinerja adalah obsesi semua orang. Di bidang sumber daya manusia, tantangan terbesar sepanjang masa adalah mengoptimalkan potensi setiap individu yang ada. Bayangkan betapa ruginya bila dari 100 orang karyawan hanya 10 % yang betul betul berkinerja optimal. Apa jadinya bila potensi individu hanya terkubur dan tidak menjadi nilai tambah terhadap kontribusi tim? Bukan hanya tim yang rugi, namun individunya juga pasti tidak bahagia.

Perhatikan juga apa pikiran pertama yang muncul di kepala bila melihat seseorang tidak perform sebagaimana diharapkan perusahaan. Apakah kita cenderung menyalahkan individunya? Atau sebaliknya, mengevaluasi seberapa serius kita membimbing dan mendorong tim, dan anak buah agar bisa berkinerja super?

Saya yakin bahwa di kebanyakan perusahaan, program agenda pelatihan telah menjadi agenda rutin. Namun, meski pun pelatihan adalah sebuah langkah krusial, untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan, kita perlu menyadari bahwa kita tidak bisa mengharapkan individu akan langsung menjadi superstar sekembalinya mereka dari pelatihan.

Program coaching-lah yang akan menjadi penentu, apakah pengetahuan dan ketrampilan baru yang diperoleh dari program pelatihan tersebut, betul-betul bermanfaat dan bisa diaplikasikan di tempat kerja. Jadi pertanyaannya, sudahkah kita memperkuat coaching? Apakah menyusun program coaching yang mumpuni ada di top of mind? Bila organisasi kita serius terhadap peningkatan kinerja, pengembangan program coaching semestinya tidak lagi dipandang sebelah mata apalagi dianggap sebagai cost ketimbang investasi.

Berbagai riset menunjukkan bahwa coaching memberi efek positif terhadap peningkatan kinerja. Survey yang dilakukan Alec Levinson, UCLA, pada November 2005 menyebutkan bahwa 100% perusahaan yang di survey di AS telah memanfaatkan jasa external coach dan 50% menerapkan coaching melalui internal coach. Sementara di UK, 79% perusahaan telah menerapkan program coaching dimana 26% dikelola secara aktif dan 14% dilakukan sebagai bagian dari gaya manajemen yang diterapkan para atasan.

Selama ini, modul training coaching bermanfaat bagi para line manager untuk mengisi kompetensi people development. Modul ini juga tercatat sebagai salah satu dari modul yang paling banyak di minta oleh perusahaan dan di prediksi akan terus terus tumbuh di tahun-tahun mendatang. Kita memang tidak bisa sekedar ikut-ikutan trend, namun perlu memperhatikan berbagai hal saat mengembangkan dan menerapkan program coaching di perusahaan.

KUNCI KEBERHASILAN PROGRAM COACHING
Coaching untuk semua orang.Masih banyak orang beranggapan coaching diberikan pada karyawan yang bermasalah saja. Tentu saja ini adalah pandangan yang keliru. Proses coaching memang dapat digunakan sebagai alat untuk mengobati karyawan yang memiliki masalah kinerja, baik dalam hal kompetensi, komitmen mau pun kontribusi. Namun, sesungguhnya coaching bermanfaat untuk semua orang dengan berbagai kebutuhan, yaitu:

Pertama, meningkatkan produktivitas kerja individu. Ini adalah sasaran utama coaching, yaitu dengan memahami apa yang menjadi aspirasi, strength mau pun kebutuhan pengembangan diri. Kemudian menjadikan ini semua modal untuk menghasilkan kinerja terbaik dan mendorong produktivitas.

Kedua, mengasah kemampuan leadership dan mempersiapkan untuk promosi / suksesi. melalui proses coaching, individu dipersiapkan mengisi peran leadership yang ada di depan mata, sehingga mereka lebih berhasil saat menjalani peran tersebut nantinya. Eksekutif dan para high potential employee adalah target partisipan untuk leadership coaching.

Ketiga, meningkatkan engagement karyawan pada organisasi, mengingat individu akan lebih termotivasi karena kebutuhan aktualisasi diri dan peningkatan self-esteem terakomodir melalui proses coaching.

Keempat, mendorong kinerja organisasi. Hal ini otomastis akan terjadi saat coaching telah menjadi nafas dan bagian dari budaya organisasi.

Kelima, organisasi atau tim dengan tingkat kepindahan karyawan tinggi juga dapat diobati dengan coaching. Mengingat coaching yang efektif akan bisa meningkatkan iklim positif dan kenyamanan dalam lingkungan kerja.

(bersambung)

*) Penulis bidang SDM di media massa nasional, Junior Partner di EXPERD
Sumber: Forum Manajemen, Vol XXVI no 04, Juli – Agustus 2012
Gambar: finance.yahoo.com
Meningkatkan Kinerja dengan Coaching

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *