Limun

Limun

Oleh: Kafi Kurnia.
Teman saya punya filsafat unik. Katanya, hidup ini jangan seperti botol limun. Ketika botol dibuka, penuh buih dan gairah. Namun, setelah buih dan sodanya hilang, rasanya datar saja. Pelajaran intinya, kalau mau keren, jangan cuma galak di garis start, tapi harus keren hingga finish.

Sukses memerlukan stamina.
Inovasi juga butuh stamina. Apa pun bisnisnya, setiap pagi Anda melangkah ke tempat usaha, pertanyaan pertama yang harus muncul di kepala adalah bagaimana menyimulasikan efek limun terhadap usaha kita. Bagaimana menciptakan buih atau gairah yang bisa mengejutkan pelanggan? Efek limun adalah stamina bagi daya tarik produk atau jasa yang kita ciptakan.

Saya ingat cerita Irvine Robbin, tokoh dan pionir bisnis es krim “Baskin-Robbin 31″. Ketika Robbin masih kecil orang tuanya memiliki perusahaan susu di Tacoma, Washington. Saat itu, selalu ada saja susu segar yang tak terjual. Agar tak basi dan terbuang, surplus susu mereka manfaatkan untuk memproduksi es krim. Awalnya, es krim itu mereka jajakan lewat toko swalayan di sekitar perusahaan. Namun, hasilnya kurang menguntungkan karena dikelola secara amatiran.

Akhirnya, ayah Robbin membukan toko es krim sendiri. Robbin menemukan bahwa konsumen yang masuk ke toko es krim umumnya berwajah gembira ria. Mereka tahu persis, kalau masuk ke toko es krim akan keluar toko dengan mendapatkan keceriaan.

Berlainan dengan konsumen warung biasa, di mana suasana buru-buru dan perlakuan tak menyenangkan tak jarang dialami konsumen. Konsep toko es krim yang selalu menyenangkan ini membuat Robbin jatuh cinta pada bisnis es krim. Baginya, es krim adalah efek limun pertama.

Setelah lulus kuliah, Robbin masuk militer dan ikut berperang dalam Perang Dunia II. Usai perang, ia memutuskan tak segera pulang karena emoh bekerja di perusahaan bapaknya. Dengan modal tabungan US$6.000,- ia berkelana ke California untuk membuka toko es krim sendiri. Kebetulan sepupu Robbin, Burton Baskin, yang juga usai dinas militer, mengikuti langkah Robbin masuk ke bisnis es krim. Ayah Robbin memotivasi mereka berdua agar membuka beberapa gerai toko es krim, sehingga dapat mendukung keberadaan sebuah pabrik es krim. Tahun 1948, Robbin mempunyai 5 toko es krim dan Baskin memiliki 3 toko es krim. Namun, situasi keuangan mereka tak membaik.

Robbin memutuskan mencari terobosan, setidaknya menciptakan efek limun nomor 2. Pada tahun 1953, Robbin memutuskan menyewa biro iklan Carson-Roberts yang mengusulkan konsep toko es krim dengan 31 rasa. Idenya, agar konsumen bisa mengunjungi toko es krim itu setiap hari selama sebulan tanpa harus mencicipi es krim yang sama. Sehingga konsumen bisa mendapat efek limun yang berbeda setiap hari bila berkunjung ke toko es krim itu.

Robbin dan Baskin akhirnya bersatu dan menciptakan toko es krim terkenal “Baskin Robbins 31″. Agar bisa menyebar cepat, semua toko yang mereka miliki mereka jual kepada para manajer mereka. Mereka memutuskan membuat franchise dari konsep bisnis mereka.
Efek limun dengan 31 rasa ternyata sangat populer di kalangan konsumen. dan untuk menciptakan efek limun selanjutnya, mereka memutuskan untuk melibatkan konsumen. Upaya ini berhasil baik. Kini berbagai rasa yang populer dari es krim “Baskin Robbins 31? justru datang dari usulan konsumen.

Dangan sistem ini, selalu saja ada rasa baru yang mereka perkenalkan. Sehingga setiap konsumen yang berkunjung seperti membuka sebotol limun yang baru setiap hari. Selalu segar dan selalu berbuih dengan gairah.

sumber: Kafi Kurnia, Anti Marketing
gambar: menu-explain.blogspot.com
Limun

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *