Kota Batu Petra di Yordania

Kota Batu Petra di Yordania

Kota Batu Petra terletak di dalam ngarai gurun terpencil di Yordania. Petra adalah situs UNESCO World Heritage dan salah satu dari keajaiban dunia. Pada jamannya, ia adalah kota metropolis raksasa dengan makam, monumen, dan bangunan keagamaan rumit lainnya yang diukir langsung di tebing batu. Diyakini telah dihuni sejak 9000 SM, Petra berkembang menjadi ibu kota kerajaan Nabataean yang berkembang pesat dan menguasai sebagian besar wilayah Yordania modern dari abad ketiga SM hingga sampai abad pertama masehi, Petra jatuh dan menyerah pada kekuatan Romawi. Setelah penaklukan Romawi dan jalur perdagangan digeser, kota ini semakin tidak penting, lalu sampai ditinggalkan. Hingga pada awal abad ke-19 seorang musafir yang mengenakan kostum Badui menyusup ke tempat kota batu Petra. Orang itu bernama Johann Ludwig Burckhardt yang mendapati dirinya berdiri di pintu masuk ke sebuah wadi, lembah sungai kering, di mana pemandu Bedouinnya menuntunnya. Saat memilih jalan di atas dasar ngarai yang berbatu, dia memperhatikan bagaimana dinding gua itu menjulang begitu tinggi sehingga hampir menutupi langit. Tapi pemandangan yang luar biasa menunggunya saat dia muncul ke udara terbuka di sisi lain: sebuah bangunan yang fantastis, dipahat di batu yang kokoh dan menjulang hampir 45 meter di atasnya.

Masa Kejayaan. Kemakmuran kerajaan Nabataean dan ibukotanya yang megah, Petra, diperoleh dari letaknya yang ada pada jalur perdagangan yang melewati kota tersebut. Pedagang dari Yaman membawa dupa, tanaman aromatik seperti mur, dan lidah buaya, sebagai bahan penting dalam parfum dan obat-obatan. Pedangan dari India membawa rempah-rempah. Dan pedangang lain membawa aspal yang berasal dari Laut Mati, yang berguna untuk mendempul kapal-kapal melintasi Laut Mediterania. Kafilah besar melintasi Petra dalam perjalanan ke pasar yang menguntungkan di Roma, Aleksandria, dan kota-kota besar lainnya di cekungan Mediterania. Nabatean menjadi makmur karena hal ini. Hal ini membangkitkan kecemburuan dan keserakahan tetangga mereka, terutama kerajaan Seleukia, yang pendirinya telah mewarisi bagian timur kekaisaran Alexander Agung. Kaum Nabataean menahan banyak serangan Seleukia, bahkan menimbulkan kerusakan yang cukup besar pada penyerang mereka. Pada 84 SM, raja Seleukia Antiokhus XII Dionysus tewas dalam satu pertempuran. Hal ini menyebabkan perang saudara. Penurunan kekuasaan Seleukia memungkinkan raja-raja Nabataean memperluas wilayah mereka lebih jauh lagi.

Tahun-tahun penting.

  1. 64 SM Petra mencapai puncak kemegahannya pada periode ini — sampai kaisar Romawi Trajan secara resmi mencaplok kota tersebut pada tahun 106 M.
  2. A.D. 363 Petra merupakan bagian dari Kekaisaran Bizantium, beberapa bangunan Petra digunakan sebagai gereja. Terjadi gempa bumi yang merusak banyak bangunan. Dan kota ini secara bertahap ditinggalkan.
  3. 700-1096 Setelah penaklukan Islam, Petra menjadi lebih dari sebuah desa. Selama Perang Salib Pertama, raja Kristen Yerusalem, Baldwin I, menduduki Petra, dan menjadi bagian dari baroni Karak.
  4. 1217-1276 Setelah Saladin mengalahkan Tentara Salib pada 1187, Petra kembali ke tangan Muslim. Seorang Jerman, Thetmar, menulis tentang kunjungan pada 1217. Kemudian, Sultan Baybars menemukan Petra kosong, sudah tidak berpenghuni.
  5. 1812 Sarjana Swiss Johann Ludwig Burckhardt menjadi orang Eropa pertama yang memasuki Petra. Menyamar sebagai seorang Muslim, dia dengan tepat mengidentifikasi reruntuhan itu sebagai bekas ibu kota Nabataean.

Sumber: Nationalgeographic gambar: stepintojordan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *