7 Kebiasaan Efektif

7 Kebiasaan Efektif

7 Kebiasaan efektif atau yang dikenal dengan The 7 Habits of Highly Effective People pertama kali diperkenalkan oleh Stephen Covey pada tahun 1989. Hingga tahun 2004 menurut data dari wikipedia, buku ini telah terjual sebanyak 15 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 38 bahasa.
Dalam sebuah wawancara ketika Stephen Covey ditanya apakah Tujuh kebiasaan efektif ini akan dapat bertahan dalam waktu lama? Ia mengatakan bahwa semakin kompleks kehidupan manusia maka Tujuh kebiasaan efektif ini akan semakin relevan.

7 Kebiasaan Efektif

Stephen Covey membagi Tujuh Kebiasaan efektif menjadi beberapa bagian sesuai dengan tahapan perkembangan manusia. Paling bawah sendiri adalah dependence atau ketergantungan. Untuk mencapai independence / ketidaktergantungan maka ada tiga kebiasaan yang wajib dipahami dan dijalankan yaitu kebiasaan I hingga III. Kemudian dari independence menjadi interdependence / ketersalingtergantungan diperlukan penguasaan tiga kebiasaan lainnya yaitu kebiasaan IV hingga VI. Sedangkan agar kebiasaan I hingga VI dapat kita jalankan dengan baik dan berkesinambungan maka dibutuhkan kebiasaan VII.

Kebiasaan Efektif I: Be Proactive
Kebiasaan efektif yang pertama ini berbicara mengenai tanggung jawab kita terhadap hidup kita sendiri. menjadi proaktif artinya kita tidak dapat menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada diri kita. Tidak menyalahkan kondisi, keadaan atau apa pun. Intinya, kita selalu mempunyai pilihan (respon) terhadap apa yang terjadi (stimulus) pada kita. Lawan dari proaktif adalah reaktif. orang reaktif selalu bertindak berdasarkan mood yang mereka alami. Jika mood mereka sedang baik, maka mereka akan baik. tetapi jika mood nya sedang buruk dan jelek maka mereka akan berubah menjadi orang yang menjengkelkan. Mereka selalu menyalahkan semuanya kecuali diri mereka sendiri. Diantara stimulus dan responlah terletak kekuatan terbesar kita, yaitu Kebebasan Memilih (Freedom To Choose). Kita bisa memilih apa pun terhadap stimulus yang ada.

Orang proaktif paling mudah dikenali dari bahasa yang digunakan. Mereka memilih menggunakan kata-kata seperti “Aku bisa, Aku sanggup” dan lain sebagainya. Sementara orang proaktif menggunakan frase kata-kata reaktif yaitu “Aku tidak bisa, malas ah, andai saja, dll.

Orang proaktif berfokus kepada kekuatan yang mereka miliki, yaitu hal hal yang ada dalam Lingkaran pengaruh mereka (circle of influence). Sehingga dengan demikian orang proaktif akan selalu bersemangat, senang, berbahagia karena mereka tidak pernah memusingkan hal-hal yang bukan dalam pengaruh mereka.

Kebiasaan Efektif II: Begin with the End in Mind
Kebiasaan efektif kedua adalah mengenai perencanaan. Kebiasaan efektif II ini dasarnya adalah imajinasi. Sebelum sesuatu menjadi kenyataan (physical creation) ia di bangun terlebih dahulu dalam imajinasi (mental creation). Contoh sederhananya, sebelum kita membangun gedung maka yang perlu kita buat adalah blue print yang berupa rancangan gedung.

Demikian pula dengan hidup kita. Sudahkah kita mempunyai blue print-nya? salah satu hal paling mudah untuk menerapkan kebiasaan ini adalah dengan membuat Personal Mission Statement. Di mana dengan membuatnya kita akan mengetahui ke arah mana hidup kita akan kita arahkan. Dengan membuat mission statement, kitalah yang menjadi pemimpin dalam hidup kita sendiri.

Kebiasaan Efektif III: Put First Thing First
Kebiasaan efektif III adalah mengenai prioritas. Dengan sumber daya waktu yang terbatas kita sebaiknya memilih apa yang akan kita lakukan. Kalau tidak, maka kita akan kesulitan mengaturnya.
Kalau kebiasaan efektif I berbicara mengenai “kitalah yang bertanggung jawab atas hidup kita”, kebiasaan efektif II berbicara mengenai “ke mana arah hidup kita”, maka kebiasaan efektif III berbicara mengenai “bagaimana kita memilih aktifitas yang mengarah kepada hidup impian kita”.
Kitalah yang menentukan prioritas apa yang akan kita dahulukan agar impian kita dapat tercapai.

7 kebiasaan efektif

Kebiasaan Efektif IV: Think Win Win
Kebiasaan efektif berikutnya adalah mengenai dasar untuk interaksi yang baik diantara sesama kita. Terkadang tanpa sadar kejadian di dalam hidup kita membuat kita memilih berpikir Menang-Kalah terhadap orang lain. Atau karena tekanan yang besar akhirnya kita bersikap Kalah-Menang terhadap orang lain.
Berpikir Menang-Menang berparadigma ibarat kita makan prasmanan di mana ada banyak makanan bagi orang lain. Bukan seperti memperebutkan sepotong kue kecil yang kalau dia dapat berarti aku tidak dapat.

Berpikir menang-menang memandang hidup seperti sebuah arena kerja sama dan bukan arena kompetitif. orang yang berpikir menang menang selalu berusaha melihat kemenangan bagi semua pihak dari pada hanya kemenangan satu pihak saja.
Orang / organisasi yang menerapkan pendekatan menang menang mempunyai tiga sifat utama yaitu:
Integritas: Sama antara perkataan dan perbuatan
Bersikap Dewasa: menyampaikan ide dengan mempertimbangkan keberanian dan timbang rasa yang tinggi
Mental Berkelebihan: Selalu cukup untuk semua orang

Kebiasaan Efektif V: Seek First to Understand than to be Understood
Kebiasaan efektif V adalah mengenai komunikasi. Jika kita ingin orang lain memahami kita maka cara yang terbaik adalah kita memahami orang lain terlebih dahulu.
Orang kebanyakan meminta untuk dimengerti dahulu dahulu baru berusaha mengerti kemudian. Tetapi pola pikir seperti ini menyebabkan AKU yang harus didahulukan. Kepentingan-KU yang harus diutamakan. Sehingga ketika orang lain akhirnya mendapatkan giliran bicara maka bisa jadi kita mengabaikan isi pembicaraannya, pura pura mendengar atau hanya mendengarkan bagian yang kita anggap menarik saja.
Hal ini terjadi karena sebagian orang ketika mendengar mempunyai kecenderungan untuk segera menjawab / bicara.

Akibatnya, sebelum orang selesai bicara kita sudah berancang-ancang untuk menjawab dan memberikan pendapat. Anda membandingkan apa yang diceritakan orang tersebut dengan pengalaman yang Anda alami dan sebelum dia selesai berbicara Anda sudah memotongnya.

Kebiasaan Efektif VI: Synergize
Kebiasaan Efektif VI adalah sinergi. Di mana secara sederhana sinergi berarti “dua kepala lebih baik dari satu kepala”. Sinergi adalah kebiasaan kerja sama kreatif. Ia dapat menemukan jawaban baru, jalan baru dari pada kalau kita berpikir sendiri.

Sinergi membutuhkan waktu dan proses. Semakin sering bersinergi maka semakin mudah kebiasaan efektif ini berkembang. Saat kita berinteraksi maka masing-masing orang akan menyampaikan pikirannya sehingga orang lain yang ada akan mendapatkan insight baru. Kemampuan ini akan semakin menguat jika kita menghargai perbedaan yang ada.

Kebiasaan Efektif VII: Sharpen the Saw
Kebiasan efektif terakhir ini adalah kebiasaan efektif yang paling menyenangkan. Makanan bergizi, olah raga, buku, musik, diary, tertawa, semua ada di kebiasaan efektif ini. Karena untuk menjaga agar ke enam kebiasaan efektif dapat berjalan maka kita memerlukan kebiasaan efektif VII: sharpen the saw atau mengasah gergaji.

Ada 4 hal yang diasah, yaitu:
Fisik: makan, olah raga, istirahat
Sosial/Emosional: membantu orang lain, acara komunitas
Mental: belajar, membaca, menulis
Spiritual: meditasi, ibadah, musik

Hal ini membuat kita agar selalu segar sehingga kita dapat menerapkan kebiasaan lainnya dengan baik. Kapasitas diri kita akan meningkat dalam menghadapi tantangan yang ada. Tanpa kebiasaan ini badan kita akan mudah lelah, hubungan kita memburuk, emosi tidak stabil dan sensitif.
Hidup dalam keseimbangan berarti memanfaatkan waktu yang diperlukan untuk memperbaharui diri. Ingatlah bahwa selalu ada kesempatan untuk memperbaharui diri melakukannya setiap hari.

Sumber: Stephen R Covey, The 7 Habits of Highly Effective People, Free Press 1989
gambar: laywi4us.wordpress.com forbes.com

 

Newer Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *