Bangkrutnya Kodak

Bangkrutnya Kodak

Lebih dari 100 tahun Kodak Inc merajai industri fotografi. Di masa jayanya, siapa pun pasti mengenal Kodak sebagai salah satu produk fotografi dan film unggulan. Namun, sejarah panjang dan kuatnya brand ternyata tak mampu menyelamatkan Kodak dari kebangkrutan. Tidak berinovasi dan tidak beradaptasi dengan pasar yang terus berkembang menjadi faktor utama bangkrutnya Kodak.

Sejarah panjang Kodak di mulai di tahun 1892, dari tangan George Eastman, secara perlahan menjelma menjadi powerhouse di Amerika Serikat. Produk kamera dan film Kodak merupakan yang terlaris pada masa kejayaannya. Kodak dijalankan dengan berlandaskan 6 core values, yakni:
1. Menghormati martabat individu
2. Intergritas yang tidak dapat dikompromikan
3. Kepercayaan
4. Kredibilitas
5. Perbaikan dan pembaruan personal yang terus menerus
6. Pengenalan dan perayaan

Kejayaan Kodak mulai terusik oleh kehadiran Fuji Photo Film Co, yang meluncurkan produk film 400 warna dengan harga 20% lebih murah dari produk kodak pada tahun 1984. Produk Kodak semakin terjepit manakala semakin banyak pesaing yang muncul dan meluncurkan kamera digital yang semakin inovatif.

Namun bangkrutnya Kodak bukan terjadi akibat melewatkan abad digital, karena sebenarnya Kodak lah perusahaan pertama yang menemukan kamera digital (1975). Sayangnya, Kodak tidak meneruskan inovasinya. Pengembangan kamera digital justru dikhawatirkan menggerus bisnis film miliknya yang selama ini menjadi tumpuan. Kodak hanya terdiam dan menghabiskan bertahun-tahun hanya untuk melihat para pesaing “mencuri” pasarnya.

Selain kareka faktor ketakutan akan menggerus bisnis film, Kodak juga meremehkan terjadinya perubahan pasar. Padahal jelas sekali telah terjadi perubahan dari analog ke digital. Kondisi Kodak semakin buruk akibat tekanan persaingan. Nilai-nilai perusahaan yang mulai diterapkan termasuk melakukan sejumlah inovasi dengan mengurangi biaya justru berdampak pada turunnya pasar dan laba. Kodak pun akhirnya mencetak rugi pada tahun 2007 dan diikuti oleh kerugian di tahun-tahun berikutnya. Nilai pasar Kodak juga merosot tajam menjadi hanya USD 150 juta dibandingkan USD 31 miliar pada 15 tahun sebelumnya.

Kesuksesan Kodak merupakan bumerang, karena pada umumnya perusahaan-perusahaan yang sukses berubah menjadi product oriented. Kekuatan Kodak terletak pada valuable intangible asset yakni brand dan distribusi kuat yang diperoleh karena kehadirannya selama lebih dari 100 tahun. Dengan keyakinan pada kedua hal tersebut, Kodak menjadi lebih fokus untuk menjual, menjual, dan menjual serta melupakan apa yang menjadi kebutuhan konsumen. Kodak lupa menerapkan inovasi dalam tata nilainya. Kodak hanya fokus menjual sehingga meremehkan ancaman digital. Ketika mereka menyadarinya di kemudian hari, semuanya sudah terlambat.

Sumber: Rhenald Kasali, Cracking Values, Bersih, Bersinar dan Kompetitif. Gramedia Pustaka Utama, 2012.
Gambar: estiasis.com
Bangkrutnya Kodak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *