Ayam Bakar Mas Mono

Ayam Bakar Mas Mono

Ayam Bakar Mas Mono. Kisah ini tampaknya begitu menggugah dan hanya sedikit orang yang bisa menerapkannya. Kisah tentang pengusaha yang mewajibkan pegawainya untuk shalat duha disamping salat wajib. Baginya, salat duha adalah salat yang membawa berkah dan memberikan banyak manfaat bagi hidupnya. Karena itulah dia rajin melakukan duha dan bahkan menularkannya kepada para pegawainya.

Sembilan orang anak muda berbaju rapi tampak antre di depan restoran ayam bakar Mas Mono di Jalan Tebet Raya Jakarta Selatan. Tangan kanan mereka menjinjing map. Raut muka serius dan tegang. Rupanya mereka tengah bersiap wawancara calon pagawai. “Kami memang butuh karyawan karena outlet juga nambah terus,” ujar Agus Pramono, sang bos restoran itu. Pria yang akrab dipanggil Mas Mono itu tampil santai dengan mengenakan kaus dan rambut model spike. Saat ini sudah 29 outlet resto Ayam Bakar Mas Mono milik Mono yang jalan dengan omzet ratusan juta per bulan. “Saya juga baru ekspansi ke bakso, namanya Moncrot,” ujarnya. Tidak hanya itu, Mono juga punya biro perjalanan umrah dan haji, dua taman kanak-kanak Islam terpadu, serta bisnis jasa katering. Total karyawan Mono sudah mencapai 1020 orang.

“Alhamdulillah, dengan ikhtiar yang benar, rezeki kami seperti diantar,” katanya. Mono lantas mengeluarkan buku karyanya berjudul Rezeki Diantar. Buku itu belum di-launching secara resmi. Tapi sudah beredar di kalangan teman-teman bisnisnya. “Alhamdulillah, yang pesan sudah lebih dari 10 ribu,” katanya. Sukses Mono tidak datang dengan sendirinya. Namun, lewat perjuangan keras.

Merantau ke Jakarta setelah lulus SMA dari Madiun, Mono numpang di kontrakan kakaknya di kawasan Bendungan Hilir. Dia sempat magang di sebuah restoran cepat saji asal AS. Namun, badai krisis moneter tahun 1997-1998 membuat perusahaan tempat dia bekerja melakukan PHK besar-besaran. Mono termasuk korbannya. tapi Mono tidak menyerah, setelah melamar ke berbagai tempat, ia diterima sebagai office boy di sebuah kantor.”Pekerjaannya ngepel, bikin kopi, sampai antar surat. Pokoknya, semua saya lakoni,” katanya.

Di waktu senggang, Mono minta diajari teman kantornya memakai komputer. “Saya belajar dari nol.” kata pria yang sering dipanggil Bondet oleh teman kecilnya di Madiun itu. Pertengahan 2001 Mono mengambil keputusan besar. Dia berhenti dari pekerjaannya dan ganti haluan dengan berdagang gorengan. “Saya pinjam gerobak dorong, ternyata ada seninya lho mendorong gerobak itu,” katanya. Misalnya, jika jalan menanjak, posisi harus ditarik dan tidak boleh dipaksa di dorong. “Awalnya belum tahu, jadi gorengan tumpah semua,” katanya. Saat itu Mono memberanikan diri mempersunting gadis idamannya, Nunung. Mereka tinggal di kamar petakan 3×4 meter.

“Kalau gorengan belum habis, saya taruh di bawah tampah (tempat dari bambu) supaya dikira laris oleh tetangga kos,” katanya, lalu tersenyum. Suatu ketika ayah Mono sakit keras. Karena kantongnya tipis, dia tidak bisa pulang menjenguk ke Madiun hingga akhirnya sang ayah wafat. “Momen ini membuat hati saya sangat sedih. Saya berdoa di makam ayah, saya bertekad harus sukses,”kata Mono.

Siapa sangka, Nunung yang hobi masak ternyata jago membuat ayam bakar. Hal itu menginspirasi Mono. Dia pun mengganti usaha gorengan menjadi ayam bakar. “Modalnya 500 ribu dan lima ekor ayam,” ungkapnya. Mono lantas mengganti gerobaknya ke sebuah warung tenda dekat Universitas Sahid, Jakarta. Jualannya laris manis. Saat itu 80 ayam ludes dalam hitungan jam. Tapi, pada 2004 lokasi dagangannya digusur karena hendak dibuat SPBU. Mono lalu pindah ke Tebet Raya 57.

Pada 2006 Mono membuka cabang lain. Namun, isu flu burung membuat bisnisnya terganggu. Omzet restoran Ayam Bakar Mas Mono anjlok drastis selama beberapa bulan. Tapi, Mono terus istiqomah jualan ayam dengan menjaga kebersihan. “Karyawan tidak boleh gondrong, harus potong kuku dan cukur jambang. Pokoknya harus bersih, sih,” ujar Mono. Cabang demi cabang dapat dibangun. Dua tahun lalu salah seorang konsumen komplain gara-gara uang kembalian kurang Rp. 200 perak. Ayam Bakar Mas Mono pun jadi gunjingan di situs-situs media sosial seperti Kaskus dan Facebook. “Saya sempat shock dan gak mau lihat laptop, down,” katanya.

Tidak lama setalah itu, anak buah Mono berulah lagi. Kali ini tidak main-main: menusuk sopir taksi! Dua kasus ini membuat Mono sadar bahwa bisnisnya butuh karyawan yang benar-benar jujur. “Mulailah saya pakai prinsip bisnis spiritual company seperti yang diajarkan Ustaz Yusuf Mansur,”katanya. Setiap calon karyawan harus menandatangani surat komitmen yang isinya 80 poin. Tiga poin diantaranya berlaku mutlak. Jika melanggar, harus langsung keluar, yaitu: Salat lima waktu, tidak merokok, tidak absen salat Duha di outlet yang buka jam 8 pagi.

Mono berpendapat bahwa rezeki tidak hanya harus di dapat dengan halal, tapi juga harus berkah. Walaupun kini kehidupan Mono sudah mapan, tidak membuatnya melupakan Duha, yang terus dijalankan di sela-sela kesibukannya.

Judul asli artikel: Pak Mono: Mewajibkan Pegawainya Salat Duha.
sumber: Kisah Menakjubkan para Pengamal Tahajud, Duha dan Puasa.
gambar:ayambakarmasmono
Ayam Bakar Mas Mono.

  1. ternyata banyak perjuangannya ya.. yah yang penting rasanya enak deh!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *