Ayah

Ayah

Ayah. Lepas Ashar sore itu, pada upacara di pelataran Masjid Imam Bonjol, Komplek TNI AL Pondok Labu, saya baca teks dalam map batik itu.

“PENYERAHAN JENAZAH. Atas nama keluarga almarhum Kolonel Marinir (Purn) H. Teuku Sulaiman, NRP 5825/P, dengan ini menyerahkan jenazah almarhum kepada Negara, Bangsa dan Tentara Nasional Republik Indonesia, untuk dimakamkan di TPU Pangkalan Jati dengan upacara militer. SELESAI.”

 Atas ketetapan Allah SWT, tadi pagi Ayah meninggal dunia. Kami semua: istri, anak, menantu, cucu, ada di sisi Ayah saat Ayah menghembuskan nafas terakhir. Ada nafas kami yang sesak. Ada tangis yang tercekat. Namun itulah kenyataan hari itu. Di bulan November 2019, Ayah “pulang”.

Kini, ada ruang kosong di dalam dada yang tak bisa diisi oleh orang lain sesudahnya.

 Tiga hari lalu Ayah masuk rumah sakit. Yang menjenguk Ayah cukup banyak, termasuk warga RT yang berangkat dengan 2 mobil. Beberapa karib Ayah juga hadir menjenguk, Pak Jefri, Om Imam dan Om Budi. Banyak yang terkejut akan kepergian Ayah yang tiba-tiba. Padahal beberapa waktu sebelumnya masih mengobrol seperti biasa. 

Ayah lahir 76 tahun lalu di Pidie, Aceh, sebagai anak ke 3 dari 4 bersaudara. Lepas SMA, Ayah mendaftarkan diri untuk menjadi TNI. Namun tak berhasil. Tahun berikutnya mencoba lagi, barulah berhasil masuk di Akademi Angkatan Laut.

 Waktu kecil, saya ingin sekali jadi tentara seperti Ayah, gagah dan keren. Namun, pada suatu pagi, saya melihat para tentara yang baru masuk merangkak di aspal di depan rumah. Hmm.. Rasanya saat itu saya berpikir untuk menanggalkan impian saya dan menggantinya dengan yang lain.

 Sewaktu Ayah masih aktif di militer, kalau pas libur, kami pergi naik Jeep dinas Ayah. Atapnya masih kain terpal. Kalau hujan, kami harus bergeser ke kanan kiri karena atapnya bocor. Emm.. Bukan bocor si, air hujannya saja yang pintar mencari celah untuk turun, hahaha..

 Selama bertugas, Ayah dianugerahi Satya Lencana Kesetiaan 8, 16 dan 24 tahun. Serta Satya Lencana Seroja dan Bintang Jalasena Nararya. Gara-gara suka melihat bintang jasa yang dipakai Ayah, saya fokus mencari TKK (Tanda Kecakapan Khusus) sewaktu di Pramuka. Tiga tahun di SMP, saya berhasil memperoleh 45 TKK, mengikuti Jambore Nasional Pramuka mewakili Surabaya dan mencapai Pramuka Garuda – level tertinggi yang bisa diraih Pramuka Penggalang di Indonesia waktu itu.

Salah satu keistimewaan Ayah –meski bukan ninja- adalah kalau jalan suaranya suka tak terdengar, tiba-tiba muncul begitu saja. Sekali waktu, ada judi yang dilakukan di kuburan. Tiba-tiba penjudi yang paling dekat di tempeleng Ayah. Mereka kaget sekali, tidak menduga dan tidak tahu Ayah muncul dari mana. Sisanya lari tunggang-langgang meninggalkan duit dan kartu judi yang berserakan. Hahaha…

 Setelah pensiun, Ayah aktif di masjid sebagai pengurus. Saat pemakaman, imam masjid memberi sambutan mengenai Ayah. Beberapa hari sesudahnya kami banyak mendengar mengenai perbaikan yang sudah dilakukan Ayah selama menjadi pengurus masjid. Dan yang sedang saya usahakan saat ini: Sholat Subuh di masjid belajar meniru Ayah yang sholat subuhnya selalu di masjid (sewaktu Ayah masih sehat, kalo pas Sabtu, saya ketemu rombongan Ayah, pak Jefri dan teman-temannya yang lain yang pulang dari masjid saat saya mengantar Mama ke pasar). Buat saya, Role model itu gak mesti ngomong, cukup tindakan yang bisa dilakukan dan ditiru.

 Jika ditanya apa warisan Ayah yang paling berharga: Buat saya, Disiplin. Ayah tidak pernah terlambat. Untuk pergi kondangan pun meski waktunya masih lama, saya harus sudah siap kalau pas pergi bareng Ayah. Dan rapi. Ini yang saya suka susah: semua barang teratur pada tempatnya. 

Tugas Ayah sudah selesai di dunia. Pada akhirnya kita semua akan dipanggil seperti Ayah. Dan tidak ada yang tahu kapan panggilan itu akan datang. Seperti kata Syeikh Ahmad Yasin, “Nyawa ini hanya 1 lembar di dalam badan. Dan dia akan keluar 1 kali. Dia pasti akan keluar sesuai jadwalnya seperti yang telah ditetapkan di Lauhul Mahfudz. Tetapi bagaimana keluarnya dan di medan mana, kamulah yang menentukan, kamulah yang memilih….”

Sampai ketemu lagi, Ayah.

Baik-baik disana.

Kami semua baik-baik disini.

Jika Anda mempunyai kelonggaran waktu, mohon doanya untuk Ayah saya: H Teuku Sulaiman bin Teuku Hasan. Al Fatihah… Terimakasih banyak. Semoga Allah SWT selalu merahmati dan memberkahi Anda. Amiiin…

Artikel “Ayah” ini ditulis oleh Iwan Pramana, dimuat di buku “Win Your Life”, Insan Mandiri Cendekia, 2020.

sumber gambar: Photo by Steve Shreve on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *