8 Etos Kerja Profesional (2)

8 Etos Kerja Profesional (2)

Oleh: Jansen Sinamo.

Etos 3: Kerja adalah Panggilan Suci; Aku Bekerja Tuntas Penuh Integritas.
Suci, menurut Kamus Webster, berarti diabdikan pada Yang Suci. Kerja adalah
panggilan suci berarti kerja disadari dan diniatkan sebagai aktivitas yang berorientasi
pada Yang Suci: kepada Tuhan dengan tiga atribut utama-Nya, yaitu kebenaran,
kebaikan, dan keadilan.

Penghayatan kerja semacam ini hanya mungkin terjadi jika seseorang merasa terpanggil
melakukan tugas tersebut. Rasa keterpanggilan di sini selain berasal langsung dari
Tuhan, juga dari instansi penuh keluhuran yang sarat mengandung kebenaran,
kebaikan, dan keadilan.

Dengan kesadaran bahwa kerja adalah panggilan suci maka terbitlah perasaan benar,
feeling right, di hati sang pekerja. Perasaan benar ini menciptakan rasa mantap dan
percaya diri yang pada gilirannya motivasi kerja yang kuat. Jadi, menuaikan kerja
sebagai panggilan suci, secara internal akan membangun karakter integritas dalam diri
kita. Sedangkan secara eksternal, kita dinilai sebagai orang terpercaya, sehingga semakin
diandalkan oleh para klien-konstituen-pelanggan kita.

Etos 4: Kerja adalah Aktualisasi; Aku Bekerja Keras Penuh Semangat.
Di dalam dan melalui pekerjaan, kita semua mengaktualisasikan diri. Aktualisasi berarti
mengubah potensi menjadi kompetensi, menjadi nyata dan aktual, dari baik menjadi
terbaik: good-better-best begitulah prosesnya. Misalnya, gunung yang mengandung bijih
emas dikatakan orang memendam potensi kekayaan; maka aktualisasi berarti bekerja
menambang emas tersebut hingga diperoleh batangan-batangan emas yang siap jual ke
pasar.

Manusia pun bagaikan pegunungan besar yang mengandung potensi bio-psiko-spiritual
yang menunggu penggalian dan pengembangan. Potensi ini awalnya merupakan rahmat
Tuhan, sama seperti bijih emas dalam perut pegunungan itu adalah anugerah Tuhan.
Potensi insani adalah raksasa tidur, benih agung yang berkarakter ilahi, artinya manusia
bisa tumbuh menjadi pribadi-pribadi akbar dengan karya-karya besar.
Aktualisasi potensi insani ini terwujudkan melalui bekerja yakni pengerahan energi bio-
psiko-spiritual secara intensif penuh intensi. Otot hanya berkembang jika dipakai secara
optimal, begitu juga potensi jiwani dan rohani, mental dan intelektual, hanya bisa mekar
dan berkembang melalui kerja dan pekerjaan.

Secara eksternal, produktivitas berdasarkan kompetensi yang berkualitas ini akan
menjadi andalan aman bagi semua mitra kerja untuk bersinergi secara win-win dan
berkelanjutan.

Etos 5: Kerja adalah Ibadah; Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan.
Tuhan mewajibkan manusia beribadah di dua tempat. Pertama, di gedung peribadahan
seperti gereja dan kapela, masjid dan musala, kuil dan pura. Kedua, di tempat kerja.
Bentuk ibadah jenis pertama adalah ritual formal dan standar, sedangkan ibadah jenis
kedua adalah olah kerja yang diabdikan kepada Tuhan.

Tuhan juga mengajarkan agar manusia berbuat kebaikan sebesar-besarnya dan
menjauhi kekezaliman sebisa-bisanya. Yang pertama berati turut berkarya membangun
perkara-perkara yang benar, baik, adil, dan ideal. Sedangkan yang kedua berarti
menghindari apa saja yang destruktif, negatif, atau buruk.

Kerja merupakan area nyata melaksanakan semua kebajikan dan keluhuran di atas,
demi kejayaan negara, pembangunan bangsa, penegakan demokrasi, keadaban
masyarakat, pemuliaan akhlak manusia, pelestarian lingkungan, penegakan keadilan,
promosi perdamaian, atau peningkatan persemakmuran bersama.

Pengabdian dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius karena pengabdian selalu
meminta kesediaan berkorban. Tetapi kita tahu: pengorbanan untuk sebuah idealisme
adalah juga kebahagiaan jika ia dimotivasi oleh cinta. Inilah yang memampukan kita
mengatasi masalah kerja apa saja dengan tenang dan mantap, sehingga kita bisa
menunjukkan loving devotion atau loving dedication pada keluhuran pekerjaan kita.

Etos 6: Kerja adalah Seni; Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas.
Apa pun yang kita kerjakan mengandung unsur keindahan, keteraturan, harmoni dan
simetri. Artinya, sebagian atau seluruhnya bekerja adalah aktivitas berkesenian.

Kerja adalah kegiatan artistik yang mendatangkan kesukaan yang bersal dari aktivitas-
aktivitas yang kreatif, eksploratif, dan interaktif. Juga, karena selalu ada suasana penuh
tantangan, maka ia memungkinkan sense of accomplishment. Ini menuntut pula
penggunaaan kreativitas, baik dalam menyelesaikan masalah-masalah kerja tersebut
maupun ketika menggagas hal-hal yang baru. Kreativitas juga dituntut dalam rangka
peningkatan mutu pekerjaan pada semua aspeknya.

Bekerja dalam modus berkesenian memungkinkan mengalirnya sukacita seperti anak
kecil yang menemukan mainannya, sehingga kita pun akan tenggelam dalam keasyikan
kerja yang positif dan produktif.

Aktivitas seni juga memperkuat karakter vitalitas, yaitu semangat hidup yang menyala
penuh kegairahan. Kerja yang dilakoni penuh kesukaan membuat kita dipenuhi daya-
cipta, ilham baru, kreasi jenius, dan gagasan inovatif.

Karya-karya inovatif, produk-produk kreatif, dan pagelaran-pagelaran artistik selalu
mengagumkan hati karena ia manyapa dan menggetarkan jiwa manusia yang sejatinya
juga kreatif dan artistik. Sang Maha Kreatif menganugerahi kita dengan potensi kreatif
dan artistik untuk direalisasikan melalui semua aspek pekerjaan kita.

Etos 7: Kerja adalah Kehormatan; Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan.
Kerja sebagai kehormatan memiliki lima arti. Pertama, pemberi kerja menghormati kita
dengan memilih kita sebagai pengemban tugas. Kedua, kerja memberikan kesempatan
untuk berkarya dengan kemampuan sendiri. Ketiga, basil karya yang baik memberikan
rasa hormat diri. Keempat, upah bekerja memampukan kita menjadi manusia sumber
(resource person) yang andal. Kelima, kesumberan dan keandalan itu memampukan
kita menyantuni keluarga, istri-anak-orang tua, sanak saudara, serta lembaga-lembaga
sosial pilihan kita.

Maka respon yang tepat adalah menjaga kehormatan profesi kita dengan bekerja sebaik-
baiknya, secara optimal dan maksimal, dengan mutu setinggi-tingginya.

Jika kita mendapat order dari pelanggan, misalnya, sesungguhnya pelanggan
memberikan kehormatan untuk melayani mereka. Jika kita menjaga kehormatan ini
dengan mutu memuaskan, maka kehormatan berikutnya akan kita peroleh lagi.
Sebaliknya, kehormatan akan dicabut jika pekerjaan kita asal-asalan atau ala kadarnya.
Bekerja unggul dengan mutu tertinggi itulah kuncinya; yang berarti the best of its kind,
superior, excellent, yakni mutu yang hebat dan luar biasa.

Dunia selamanya kekurangan produk-produk bermutu, manusia-manusia bermutu,
manajer-manajer bermutu, guru-guru bermutu, menteri-menteri bermutu, dan
presiden-presiden bermutu; segalahal yang bermutu tinggi. Inilah basis keberhasilan di
dunia kita yang semakin sarat dengan kompetisi.

Etos 8: Kerja adalah Pelayanan; Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahan Hati.
Secara moral, kemuliaan sejati datang dari pelayanan. Orang yang melayani adalah
orang mulia. Profesi yang melayani adalah profesi mulia. Sejatinya, semua pekerjaan
adalah bentuk pelayanan kita bagi para konstituen-klien-pelanggan yang sekaligus
menegaskan eksistensi pekerjaan kita.

Melayani adalah pekerjaan mulia. Perawat melayani orang sakit, kita sebut suster mulia.
Ibu Teresa melayani kaum dhuafa India, kita sebut bunda mulia. Ulama melayani umat,
kita sebut para aulia. Menteri kabinet—dalam bahasa Inggris minister adalah orang yang
bertugas ‘to administer’ berarti melayankan—kita sebut jabatan mulia; karena menteri
memang dipanggil melayani rakyat dan negaranya. Dan sesungguhnya, apa pun
pekerjaan Anda, sepanjang halal, jika diusut hingga ke akarnya, sesungguhnya eksis
untuk melayani konstituen-klien-pelanggan tertentu. Artinya pekerjaan Anda adalah
aktivitas yang mulia.

Di pihak lain, pekerjaan Anda harus dimuliakan melalui pelayanan agar Anda pun
menjadi insan mulia, yaitu manusia pekerja yang berhati mulia. Ciri utama kemuliaan
ialah karakter altruistik yang berarti tidak mementingkan diri sendiri. Lebih dari itu,
altruisme berarti aktif berbuat kebajikan bagi orang lain, tanpa pamrih.

Dalam dunia yang semakin dikuasai oleh materialisme dan hedonisme yang egoistik
dewasa ini, etos melayani secara altruistik menjadi sangat penting bagi kita, bukan saja
sebagai strategi sukses yang sejati, tetapi juga sebagai jalan utama untuk lebih
memanusiakan manusia. Dunia jelas mendambakan lebih banyak manusia mulia
berjiwa melayani yang berwatak altruistik dan rendah hati.

Sumber: Jansen Sinamo, 8 Etos Kerja Profesional. Jakarta: Institut Darma Mahardika, Cetakan ke-10, 2011
gambar: desk7.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *